Selisih Yield SBN vs US Treasury Makin Tipis, Suahasil Klaim Bukti Investor Mulai Percaya RI

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Suahasil Nazara memamerkan selisih imbal hasil (yield) antara Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bersama obligasi pihak pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) kini menyempit hingga ke level 188 basis poin (bps).

Per 7 Oktober 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun merasakan lonjakan hingga 5,28 persen sekaligus menjadi yang tertinggi selama 23 tahun terakhir. Sementara imbal hasil SBN 10 tahun tercatat sebesar 7,17 persen.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa penurunan selisih suku bunga ini menjadi bukti kuat meningkatnya kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

“Dulu wajib kita berikan baru attractive bila dikasih 400 bps, 500 bps. Kita cukup menyerahkan 188 bps, dan ini merupakan basis dari fundamental kepercayaan kepada pengelolaan ekonomi makro Indonesia,” katanya dalam acara Investor Daily Summit 2026, dikutip Minggu (11/10/2026).

Sebagai perbandingan, pada krisis ekonomi tahun 2003, Indonesia wajib menawarkan extra premium bunga hingga 1.000 bps di atas suku bunga obligasi AS agar produk keuangan domestik dilirik pasar global.

Sedangkan pada saat ini, meskipun suku bunga AS berada di level tertinggi dalam hampir 23 tahun terakhir (5,28%), Indonesia tidak perlu lagi membayar beban bunga yang terlampau tinggi demi menarik modal asing.  

“Jadi bila bunga Amerika Serikat waktu itu merupakan 4 persen, Indonesia mesti kasih hampir 12 persen, baru ada yang beli, baru ada yang mau masuk ke Indonesia. Ketika kita memasuki global crisis tahun 2009, bahkan Indonesia itu wajib menyerahkan bunga makin tinggi lagi. Dan ini tentu meningkatkan biaya bunga demi perekonomian kita,” paparnya.

Berkat spread (selisih) yang makin kecil itu, Suahasil menyebut bila ini berdampak pada masuknya aliran modal asing ke Indonesia (capital inflow), baik melalui SBN maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Selisih 188 bps ini juga dianggap Suahasil bila RI makin baik dari negara sepadan (peer group) bagaikan India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brazil lantaran obligasi mereka memiliki selisih makin tinggi dari US Treasury.

Lebih lanjut Suahasil menyebut bila ini dapat terjadi lantaran adanya kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dikelola Pemerintah.

“Kuncinya merupakan kredibilitas. Tidak dapat kita mengelola perekonomian tanpa kredibilitas yang baik. Kredibilitas berarti transparansi, komunikasi terus dilakukan, dan kita wajib terus memperlihatkan bahwa APBN yang kita kelola merupakan APBN yang memang bermanfaat,” jelasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *