Netizen Cari-cari Mbak Rara di Tengah Kebakaran Hutan, Katanya Punya ‘Remote Langit’

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Sosok Mbak Rara atau Raden Rara Istiati Wulandari menjadi orang yang teramat dicari netizen di dunia maya di tengah kasus kebakaran hutan Kalimantan dan Sumatera. Termakin Mbak Rara sempat mengaku punya remote langit demi turunkan hujan.

Mbak Rara merupakan seorang pawang hujan dan peramal tarot asal Indonesia yang lahir di Jayapura pada 22 Oktober 1983. Namanya menjadi fenomena nasional hingga internasional setelah menjalankan aksi ritual mengendalikan cuaca di tengah sirkuit pada ajang MotoGP Mandalika 2022.

Kini akun @indonesian.core viral lantaran memposting sosok Mbak Rara di tengah kasus kebakaran hutan.

“Di tengah karhutla yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, sosok Mbak Rara, pawang hujan yang sempat viral saat MotoGP Mandalika, kembali mengundang perhatian masyarakat sekitarnet,” tulis akun itu.

“Tak sedikit yang kembali menyinggung namanya di tengah kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan upaya nyata, mengawali dari pemadaman hingga pencegahan agar api tidak semakin meluas.”

Mbak Rara sempat diwawancara podcast Deddy Corbuzier. Di sana dia mengaku dapat turunkan hujan.

“Langit itu atas izin Tuhan milik Rara. Di langit itu terisi teman-teman Rara, para pekerja, para pembalap, pokoknya pihak pemerintah,” kata Rara 2022 lalu.

masih terjadi dan menyebabkan kabut asap pekat, terutama di wilayah Kalimantan bagaikan Palangka Raya (Kalimantan Tengah) dan Kalimantan Barat.

Langit di Palangka Raya sempat berubah menjadi oranye dan gelap akibat kabut asap pekat karhutla. Warga mengeluhkan kualitas udara yang buruk dan menyesakkan.

Data pemantauan mencatat adanya titik api di sejumlah wilayah bagaikan Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Barat, Seruyan (Kalimantan Tengah), Ketapang (Kalimantan Barat), hingga seuntukan wilayah di Jawa dan Sulawesi. Presiden Prabowo Subianto menegaskan luas kebakaran sempat turun di bawah seribu hektare, namun pihak berwenang menegaskan risiko masih belum berakhir.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *