MediaMerdeka.com – Pemerintah secara resmi menetapkan hari Jumat, 15 Mei 2026, sebagai hari cuti bersama dalam rangka memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Kebijakan libur nasional dan cuti bersama ini berlaku secara menyeluruh untuk instansi pihak pemerintahan, lembaga pendidikan, hingga tersangka di industri finansial, termasuk pasar modal dalam negeri.
Sementara, pada hari ini, Minggu 17 Mei 2026 merupakan hari libur reguler. Bagi para tersangka pasar dan investor yang memantau aktivitas operasional di Bursa Efek Indonesia (BEI), perdagangan saham ditentukan sedang berhenti demi sementara waktu.
Hari ini, Minggu (17/5/2026), aktivitas bursa masih dalam masa libur akhir pekan, mengakhiri rangkaian libur panjang (long weekend) yang berlangsung sejak pertengahan pekan.
Jadwal Operasional BEI Pasca Libur Panjang
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis oleh otoritas bursa, BEI menghentikan sementara aktivitas perdagangan dalam rangka memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus yang jatuh pada Kamis, 14 Mei 2026. Penutupan tersebut berlanjut pada Jumat, 15 Mei 2026, sejalan bersama keputusan cuti bersama dari pihak pemerintah.
Berhentinya aktivitas transaksi selama dua hari kerja berurutan ditambah libur akhir pekan menciptakan pasar saham domestik jeda selama empat hari penuh. Perdagangan saham di BEI dijadwalkan akan kembali dibuka normal pada Senin, 18 Mei 2026.
Bagi para investor yang bersiap menjalankan transaksi esok hari, jadwal perdagangan saham akan dimengawali sesuai regulasi biasa. Sesi I akan berlangsung pada pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, lalu dilanjutkan bersama Sesi II pada pukul 13.30 hingga 15.49 WIB.
IHSG Babak Belur Menjelang Jeda Libur
Meskipun para tersangka pasar menikmati libur panjang, kondisi pasar saham domestik justru sedang diselimuti awan mendung. Tepat semasih belum libur dimengawali, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah amat tajam pada perdagangan Rabu (13/5/2026).
IHSG mencatatkan penurunan drastis hingga 135 poin atau terkoreksi 1,98%, yang melemparkan indeks ke posisi 6.723. Angka penutupan ini menjadi catatan minor lantaran mencerminkan level terendah baru IHSG dalam kurun waktu makin dari satu tahun terakhir.
Koreksi dalam ini dipicu oleh kepanikan pasar setelah adanya keputusan rebalancing dari MSCI Global Standard Indexes. Penghapusan sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) dari indeks acuan internasional tersebut memicu aksi jual masif.
Beberapa saham yang menjadi motor utama pelemahan indeks antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatama Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Tidak cuma itu, tekanan juga meluas ke saham-saham big cap lain bagaikan MORA, MLPT, dan AALI.
Ditinjau dari performa sektoral, sektor material dasar menjadi klaster yang teramat menderita bersama kejatuhan mencapai 4,43%. Sektor infrastruktur mengekor di zona merah bersama penurunan 2,72%.
Sektor-sektor strategis lainnya bagaikan energi, teknologi, keuangan, serta konsumer baik primer maupun nonprimer juga kompak tertekan. Meski begitu, sektor transportasi sukses melawan arus bersama melonjak signifikan sebesar 4,89%, ditemani sektor industri yang menguat 1,26%.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini



