MediaMerdeka.com – Seorang dokter muda bernama Hilda Natalia Banche menuai kecaman keras dari masyarakat sekitarnet setelah menjadikan seorang kreator konten penyandang disabilitas, ‘Uni Bakwan’, sebagai bahan candaan yang tidak etis di media sosial Threads.
Kegaduhan ini bermula saat seorang pengguna bertanya mengenai rekomendasi hewan peliharaan yang perawatannya mudah.
Bukannya menyerahkan jawaban informatif, dokter Hilda Nathalia justru membalas bersama poin-poin yang menjurus pada ejekan fisik terhadap Uni Bakwan.
“Uni Bakwan recommended kak: 1. Badannya kecil, 2. Bisa diajak main, 3. Mirip kucing tapi bukan kucing, 4. Ngurusnya gampang, 5. Gak poop sembarangan, 6. Fitur tambahan: dapat muter di timbangan,” balas dokter tersebut dalam akun Threads miliknya yang kini telah dihapus.
Komentar ini sontak memicu amarah publik. Banyak yang menilai tindakan seorang tenaga medis yang sewajibnya mengedepankan etika profesi justru merendahkan martabat manusia.
“Ngeri jadi pasiennya, dijulidin kali yak di balik layar,” tulis netizen akun @irv*** kolom komentar akun Instagram @lets.talkandenjoy pada Senin, 18 Mei 2026.
Senada bersama itu, masyarakat sekitarnet lain mengingatkan pentingnya etika di atas ilmu pengetahuan,
“Bener ya, orang berilmu masih belum tentu beradab, orang beradab tentu berilmu. Maka adab makin penting daripada ilmu,” ujar akun @mns***.
Surat Terbuka dan Permohonan Maaf
Menanggapi protes dan kritik yang masif, dokter tersebut akhirnya mengeluarkan surat terbuka pada Senin, 18 Mei 2026. Dia mengakui kekhilafannya dalam memakai ruang publik demi melontarkan pernyataan yang tidak pantas.
“Saya menyadari penuh bahwa saya telah menimbulkan kegaduhan, ketidaknyamanan, dan kekecewaan untuk sejumlah pihak. Saya sadar penuh bahwa sebagai manusia saya wajib menaruh penghormatan kepada setiap insan tanpa terkecuali,” tulisnya dalam permohonan maaf tersebut.
Aksi ini dinilai amat ironis mengingat profil dokter tersebut di media sosial memperlihatkan bahwa dirinya aktif mengampanyekan kesadaran kesehatan mental dan kesejahteraan tenaga kesehatan.
Perilaku ini memancing pertanyaan kritis mengenai empati tenaga medis terhadap kelompok disabilitas.
Hingga kini, kehebohan ini masih terus dibahas oleh masyarakat sekitarnet, bersama sejumlah pihak menginginkan agar insiden ini menjadi refleksi untuk para profesional demi makin bijak dalam menjaga tutur kata dan marwah profesi mereka di dunia maya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

