MediaMerdeka.com – Acha Septriasa tak menyangka proses pendalaman karakter di film Suamiku Lukaku justru mengangkutnya pada sejumlah cerita memilukan dari pihak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Saat berkunjung ke kantor MediaMerdeka.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 18 Mei 2026, aktris 36 tahun tersebut mengungkap film terbarunya bukan sekadar drama rumah tangga biasa.
Lewat karakter Amina, Acha diajak menyelami luka wanita yang hidup dalam hubungan toksik dan penuh kekerasan.
“Film Suamiku Lukaku bercerita tentang seorang wanita bernama Amina. Dia tumbuh di keluarga yang memang enggak terbiasa demi melawan lantaran dari kecil menyaksikan hubungan orang tuanya penuh kekerasan dan enggak ada rasa saling mendengarkan,” kata Acha Septriasa membuka cerita.
Menurut bintang film Qodrat tersebut, Amina sejak kecil menyaksikan ibunya menjadi pihak korban kekerasan sang ayah. Situasi itu menciptakan karakter yang diperankannya tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa diam dan memendam luka.
Masalah makin rumit ketika Amina menikah bersama pria yang ternyata juga mengangkut trauma masa kecilnya sendiri.
“Suaminya ini tumbuh di situasi yang keras juga lantaran dia enggak sempat menyambut baik perhatian dan genuine support dari bapaknya. Jadi akhirnya hubungan mereka tuh sama-sama mengangkut luka yang bikin dinamika pernikahannya amat toksik,” beber Acha.
Yang menciptakan Acha makin tersentuh, proses syuting film ini dilakukan di Pangkal Pinang. Dia menyebut kota tersebut punya angka kekerasan terhadap wanita yang cukup tinggi.
“Ironisnya, Pangkal Pinang itu merupakan satu kota bersama tingkat kekerasan wanita tertinggi di seluruh Indonesia. Makanya aku pengin banget film ini dapat jadi suara juga buat wanita-wanita yang barangkali selama ini takut bicara,” tutur sang aktris.
Karena itu, pemeran Amina tersebut menginginkan film ini dapat menjadi ruang untuk wanita demi berani bersuara ketika merasakan kekerasan di rumah tangga.
“Aku pengin banget menyuarakan bahwa kita sebagai wanita dapat bersuara demi stop kekerasan. Kalau merasakan hal-hal yang telah menciptakan kita enggak nyaman, please let someone that close to you know supaya mereka dapat bantu dan nemenin kita,” ucapnya.
Dalam mendalami karakter Amina, Acha mengaku tak cuma mengandalkan naskah. Dia juga berdiskusi intens bersama sutradara hingga mempelajari kondisi psikologis pihak korban KDRT.
“Aku menyaksikan referensi wanita bersama tekanan physical abuse dan verbal abuse bagaikan apa, lalu bagaimana psikis mereka ketika merasakan hal-hal itu. Jadi memang sejumlah diskusi juga sama sutradara supaya karakternya terasa hidup,” jelas Acha.
Bahkan semasih belum syuting dimengawali, tim produksi menghadirkan sejumlah wanita di Pangkal Pinang demi beruntuk pengalaman nyata sebagai bahan riset.
Cerita yang didengarnya ternyata jauh makin kelam dibanding adegan yang tampil di layar lebar.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

