MediaMerdeka.com – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo telah menerapkan digitalisasi dalam pelayanan kepada masyarakat sekitar. Bahkan, 90 persen layanan kini dilakukan secara digital.
Berdasarkan pantauan MediaMerdeka.com, Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo memiliki gedung yang cukup nyaman. Cermin berbentuk belah ketupat tersusun di dinding kantor tersebut layaknya hotel berbintang.
Kantor itu juga dilengkapi ruang tunggu untuk para pemohon. Terlihat sejumlah petugas sedang menolong masyarakat sekitar dalam proses pembuatan paspor.
Kepala Imigrasi Palopo, Yogie Kashogi, mengaku seuntukan besar masyarakat sekitar terbantu bersama penerapan digitalisasi lantaran telah melek teknologi.
Jika ada masyarakat sekitar yang masih belum memahami sistem digital, pihaknya juga telah menyediakan customer service (CS) demi menolong.
“Adapun bila ada masyarakat sekitar yang masih belum tahu ketika datang ke sini, itulah gunanya tadi petugas CS,” kata Yogie saat ditemui di kantornya di Palopo, Sulawesi Selatan, Selasa (19/3/2026).
“Petugas pemohon, masyarakat sekitar datang ke petugas CS, kami bantu demi pendaftaran di aplikasi M-Paspor tersebut,” imbuhnya.
Yogie mengaku dalam sehari pihaknya dapat melayani 40 hingga 60 pemohon. Mayoritas pemohon mengajukan pembuatan paspor demi keperluan umrah.
“Mayoritas mengurus paspor demi keperluan umrah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Yulius Lilingan, menyebutkan masih terdapat kendala dari masyarakat sekitar terkait digitalisasi sistem, terutama untuk lansia yang hendak menciptakan paspor.
“Memang bila lansia ini kan kita berpikir susah demi mendaftar M-Paspor ya,” kata Yulius.
Hal itu, lanjut Yulius, dapat disiasati lantaran satu akun di aplikasi M-Paspor dapat digunakan demi sejumlah anggota keluarga. Dengan begitu, anggota keluarga dapat menolong proses pendaftaran lansia.
“Tapi di aplikasi M-Paspor itu kan dapat satu akun itu demi dua, tiga orang, jadi satu keluarga,” kata Yulius.
Selain lansia, kata Yulius, pihaknya juga menemukan masih adanya masyarakat sekitar yang kesulitan memahami proses pembuatan paspor secara digital. Karena itu, pihaknya menyediakan customer service demi menolong masyarakat sekitar.
“Jadi di loket kami ada dua di bawah itu, satu loket demi pemohon yang telah benar-benar mendaftar M-Paspor, yang satunya itu yang masih belum mengerti M-Paspor. Di situ ada petugas yang stand by demi mengarahkan,” tandas Yulius.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

