‘Kami Diperlakukan Seperti Hewan!’ Kesaksian Relawan Indonesia yang Ditawan Militer Israel

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Herman Budianto, salah seorang relawan kemanusiaan Indonesia yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0, memuntukkan kesaksian mengenai perlakuan brutal militer Israel (IDF) selama masa penahanan.

Ia menyebut tindakan fisik dan psikis yang mereka terima amat tidak manusiawi.

Proses penyiksaan tersebut berlangsung selama kurang makin empat hari, dimengawali sejak armada kapal mereka dicegat di perairan internasional hingga dibawa ke penjara.

“Penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IDF itu nyata, amat keji amat brutal. Dari mengawali proses penculikan sampai bersama proses yang panjang sekitar empat hari menjalankan penyiksaan-penyiksaan tadi,” ujar Herman setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026).

Berdasarkan pengamatannya, terdapat sekitar 40 relawan dari berbagai negara yang merasakan cedera berat akibat kekerasan tersebut. Beberapa di antaranya merasakan patah tulang hingga luka tembak.

“Banyak sekali yang merasakan cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang patah tangan patah kaki ya patah hidung ada yang ditembak dan seterusnya,” imbuhnya.

Tak cuma kekerasan fisik, Herman juga mengungkap adanya dugaan pelecehan seksual yang dialami tawanan pria maupun wanita.

Selama berada di penjara, para relawan dipaksa menunduk dan berjalan memakai lutut.

“Kami diperlakukan bagaikan hewan ya yang kami wajib berjalan bersama merangkak bersama lutut kami, kami wajib berjalan bersama senantiasa menunduk tidak boleh menatap mereka,” beber Herman.

Kondisi fasilitas penahanan juga dilaporkan amat memprihatinkan. Para relawan tidak diberikan pakaian pengganti maupun perlengkapan tidur yang layak, berakibat terpaksa tidur di lantai dalam kondisi pakaian basah.

“Kamipun tidur di lantai yang tidak ada selimut tidak ada bantal dalam kondisi basah dan baju basah,” jelasnya.

Meski merasakan tekanan hebat, Herman menegaskan bahwa penderitaan yang ia alami masih belum sebanding bersama apa yang dirasakan rakyat Palestina setiap harinya.

Ia menginginkan pengalaman pahit ini justru menjadi pemantik semangat untuk komunitas internasional demi terus menyuarakan kemerdekaan Palestina.

“Mudah-mudahan ini dapat menggelorakan semangat membebaskan Palestina di seluruh dunia. Karena teman-teman kami seluruhnya berasal dari berbagai macam negara ada sesejumlah 52 negara yang bergabung di situ yang seluruhnya bergerak bukan lantaran agama tapi lantaran rasa kemanusiaan,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *