Miris! Ternyata Cuma 46 Persen Kasus Bullying di Sekolah yang Berhasil Tuntas

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Pemerintah mengakui penanganan kasus kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menyikapi persoalan serius.

Mantan Komisioner KPAI yang kini menjabat Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T Kemendikdasmen, Rita Pranawati, mengungkap cuma 46 persen kasus yang sukses diberakhirkan.

Hal tersebut disampaikan Rita dalam seminar bertajuk “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” pada sesi diskusi mengenai regulasi Budaya Aman dan Nyaman yang tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Dulu waktu masih di KPAI ya, menyelesaikan kasus itu ternyata cuma 46 persen kasus-kasus yang dapat berakhir,” kata Rita di Gedung A, Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

Menurut dia, rendahnya angka penyelesaian kasus dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya pihak korban yang memilih pindah sekolah tanpa pendampingan lanjutan akibat rasa malu atau trauma.

“Karena bila anaknya ter-bully, punya kasus, terkadang orang tuanya malu lalu pindah tanpa tahu ke mana. Jadi kasus rehabilitasinya tidak berakhir,” ujarnya.

Rita menilai kondisi tersebut menjadi alasan utama pihak pemerintah menitikberatkan pendekatan promotif dan preventif dalam regulasi baru mengenai budaya sekolah aman dan nyaman.

“Kalau telah jadi kasus itu berat penanganannya. Kondisinya juga tidak mudah,” katanya.

Ia mengimbuhkan, dampak kekerasan terhadap anak tidak cuma terjadi dalam jangka pendek, namun juga dapat mempengaruhi masa depan pihak korban apabila pemulihan tidak berjalan optimal.

“Tapi bila tidak pulih, masa depannya menjadi amat sulit,” ucap Rita.

Dalam regulasi baru ini, pihak pemerintah memperluas cakupan perlindungan tidak cuma pada kekerasan fisik di sekolah, namun juga ruang digital.

Rita menyoroti tingginya waktu penggunaan gawai anak yang mencapai 7 hingga 8 jam per hari.

“Screen time kalangan anak kita 7 jam Bapak, Ibu. PR banget itu. Delapan jamnya di sekolah, delapan jamnya tidur, delapan jamnya main HP,” katanya.

Karena itu, pihak pemerintah mendorong seluruh pihak mengawali dari sekolah, orang tua, hingga masyarakat sekitar ikut terlibat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

“Jadi promotif dan preventif agar setiap anak juga merasa nyaman,” pungkas Rita. (Dinda Pramesti K)

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *