Kasus Duel Maut WNA Brunei di Blok M Masuk Radar Interpol, Ini Motifnya

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Kawasan Blok M yang biasanya riuh bersama aktivitas malam, mendadak mencekam setelah sebuah perselisihan antara sesama masyarakat sekitar negara asing (WNA) asal Brunei Darussalam berakhir tragis. Sebuah pesan suara (voice note) bernada tantangan dan pengaruh alkohol diduga menjadi pemicu utama di balik tewasnya MHF (30) di tangan rekannya sendiri, MIA (33).

Polda Metro Jaya kini telah mengungkap tabir di balik aksi kekerasan yang terjadi menjelang subuh tersebut. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyebutkan bahwa emosi yang tak terkendali menjadi motor utama tersangka menjalankan penganiayaan.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, motif penganiayaan diduga lantaran tersangka tersulut emosi,” kata Hermanto dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Adu Mulut dan Provokasi Digital

Insiden ini tidak terjadi begitu saja. Berdasarkan pendalaman pihak kepolisian, bibit konflik muncul dari kesalahpahaman antara tersangka MIA bersama salah satu saksi di lokasi. Korban MHF yang berniat membela saksi tersebut justru terlibat perseteruan verbal yang meruncing bersama tersangka.

Situasi semakin panas ketika pihak korban mengirimkan sebuah pesan suara yang justru memicu adrenalin tersangka demi menjalankan konfrontasi fisik.

“Semasih belum kejadian, pihak korban juga sempat mengirimkan pesan suara atau voice note yang bernada tantangan berkelahi. Saat pihak korban dan tersangka bertemu di lokasi kejadian, situasi menjadi semakin konfrontatif. Dari hasil pendalaman, tersangka saat itu diduga berada dalam pengaruh alkohol,” katanya.

Di bawah pengaruh minuman keras, MIA kehilangan kendali diri. Hanya bersama satu hantaman memakai kantong kertas berisi botol minuman keras yang ia genggam, nyawa MHF terancam. Pukulan telak itu mengenai untukan kepala pihak korban.

“Akibat pemukulan tersebut, pihak korban terjatuh di lokasi kejadian, sempat menjalani perawatan medis, dan lalu dinyatakan meninggal dunia,” kata Budi.

Kronologi Subuh Berdarah

Budi Hermanto menerangkan makin lanjut bahwa peristiwa ini bermula di area Blok M Hub. Korban awalnya sedang bersantai semasih belum situasi berubah menjadi mencekam ketika tersangka bergabung dalam lingkaran perbincangan tersebut.

“Peristiwa bermula menjelang subuh, saat pihak korban MHF sedang berada di area Blok M Hub bersama seorang saksi. Tidak lama lalu, datang sejumlah orang lainnya yang bergabung, lalu duduk dan berbincang santai bersama pihak korban di sekitar lokasi,” kata Budi.

Koordinasi Lintas Negara bersama Interpol

Mengingat status tersangka dan pihak korban merupakan masyarakat sekitar negara asing, pihak kepihak kepolisianan tidak bekerja sendiri. Polsek Kebayoran Baru mengonfirmasi bahwa kasus ini telah dipantau oleh otoritas keamanan di negara asal mereka, Brunei Darussalam.

Kapolsek Kebayoran Baru, AKBP Nugrahadi Kusuma, menegaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif bersama Interpol guna mengonfirmasi proses hukum berjalan transparan dan sesuai prosedur internasional.

“Kami juga telah komunikasi bersama Interpol dan sempat berkomunikasi bersama kepihak kepolisianan dari negara sana, lantaran dari negara Brunei pun telah dibikin laporan pihak kepolisian, surat pengaduan,” kata Nugrahadi kepada wartawan, Selasa (26/5).

Kini, MIA wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi, sementara koordinasi diplomatik terus dilakukan demi menuntaskan kasus penganiayaan maut yang mencoreng ketenangan di pusat Jakarta Selatan tersebut.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *