Rupiah Melemah Terus-menerus Akibat Kebijakan Pemerintah

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyebutkan rupiah kini menanggung tekanan akibat kebijakan pihak pemerintah yang tidak sinkron bersama Bank Indonesia, selain akibat konflik di Timur Tengah.

Nilai tukar rupiah di pasar offshore atau luar negeri kini mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebatai salah satu mata uang bersama penurunan nilai teramat buruk di antara negara berkembang bahkan di kawasan Asia.

Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5/2026) menyebutkan fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif baik dibanding sejumlah negara berkembang lain.

Inflasi domestik masih terkendali, sektor perbankan relatif sehat dan pertumbuhan ekonomi masih positif. Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa pasar pada saat ini tidak cuma menyaksikan angka headline.

“Pasar menyaksikan apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat demi menyikapi era global baru yang jauh makin volatile dan inflationary,” ujar dia.

Lebih lanjut, jelas Fakhrul, yang tengah diuji pada saat ini bukan cuma fundamental ekonomi, namun kredibilitas dan konsistensi kebijakan.

Ia mengamini bahwa faktor global turut menekan rupiah, mengawali dari geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, hingga tingginya imbal hasil (yield) US Treasury.

Akan namun, menurutnya, faktor domestik juga berperan lantaran pasar menyaksikan adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Ia juga menilai, sejumlah komunikasi kebijakan yang muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang buruk turut memperbesar ketidaktentuan.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga amat terbatas, maka BI dan rupiah wajib bekerja jauh makin keras,” kata Fakhrul.

Ia juga menguraikan bahwa dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global akan menekan inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar.

Namun, ketika penyesuaian domestik dilakukan amat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya makin sejumlah berpindah ke rupiah.  Penyesuaian itu antara lain bersama tetap mempertahankan subsidi BBM saat harganya minyak dunia naik dan nilai rupiah menurun terhadap dolar AS – mata uang yang digunakan demi mengimpor minyak.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, namun tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelas Fakhrul.

Menurutnya, hal tersebut yang menciptakan pelemahan rupiah pada saat ini tampak jauh makin besar dibandingkan sejumlah indikator ekonomi lainnya.

Ia mengimbuhkan bahwa kondisi pada saat ini relevan bersama teori Dornbusch Overshooting. Ketika harga domestik rigid sementara pasar keuangan bergerak cepat, maka nilai tukar akan bergerak jauh makin ekstrem dibanding fundamentalnya.

“Inflasi yang sewajibnya muncul di sejumlah tempat akhirnya terlalu sejumlah ditanggung oleh rupiah,” ujar dia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *