Skandal Riset AI Kedokteran Demi Travel Grant, MGBKI Desak Audit Total

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) menyebutkan, pihaknya mendorong institusi terkait, mengawali dari penyelenggara konferensi hingga otoritas akademik, demi dalam waktu dekat menjalankan audit menyeluruh, merespons dugaan riset palsu oleh sejumlah pihak demi travel grant.

Semasih belumnya di media massa dikabarkan bahwa ada yang memakai riset kedokteran berbasis AI yang tidak valid demi memperoleh travel grant demi konferensi di luar negeri.

Merespons hal tersebut, Ketua MGBKI dr Budi Iman Santoso di Jakarta, Kamis (28/5/2026), menyebutkan pihaknya menyampaikan keprihatinan mendalam atas munculnya dugaan pelanggaran integritas akademik dan riset yang melibatkan nama masyarakat sekitar Indonesia dalam forum ilmiah internasional.

Ilmu kedokteran cuma dapat berdiri di atas kebenaran, kejujuran, etika, dan tanggung jawab akademik,” kata Budi sebagaimana dilansir Antara.

Oleh lantaran itu, segala bentuk fabrikasi data, falsifikasi hasil penelitian, plagiarisme, pemalsuan identitas, pencatutan afiliasi, manipulasi kepengarangan, serta penyalahgunaan kecerdasan buatan demi menciptakan karya ilmiah fiktif merupakan pelanggaran serius terhadap martabat ilmu pengetahuan dan tidak dapat ditoleransi.

Namun demikian, pihaknya juga menegaskan bahwa setiap dugaan pelanggaran wajib diperiksa melalui mekanisme yang adil, transparan, independen, proporsional, dan berbasis bukti.

MGBKI tidak mendorong penghakiman di ruang publik, persekusi personal, maupun penyebaran data pribadi.

“Yang wajib ditegakkan merupakan kebenaran ilmiah, bukan kegaduhan,” dia mengingatkan.

Dia menerangkan, institusi terkait perlu dalam waktu dekat menjalankan audit ilmiah dan etik secara menyeluruh, antara lain pengecekan keabsahan data dan raw data penelitian; persetujuan etik penelitian; validitas lokasi, subjek, dan metode penelitian; penggunaan kecerdasan buatan dalam penyusunan karya ilmiah; hingga kebarangkalian penerimaan travel grant, award atau keuntungan akademik lainnya.

“Apabila dugaan pelanggaran terbukti, MGBKI mendorong adanya langkah tegas berupa pencabutan karya ilmiah, pembatalan penghargaan atau grant, sanksi akademik dan etik, serta langkah administratif maupun hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Pihaknya memandang peristiwa ini sebagai alarm nasional untuk dunia pendidikan kedokteran dan kesehatan Indonesia.

Menurutnya, reputasi akademik bangsa tidak cukup dijaga bersama membela citra, namun wajib dijaga melalui keberanian membangun sistem yang bersih, akuntabel, dan berintegritas.

Karena itu, MGBKI menyerukan perlunya penguatan tata kelola integritas akademik asional melalui pembentukan atau penguatan komite integritas riset di setiap institusi pendidikan kedokteran; kewajiban verifikasi etik, data, afiliasi, dan authorship semasih belum karya ilmiah dibawa ke forum internasional.

“Pedoman penggunaan kecerdasan buatan dalam riset dan publikasi ilmiah. Edukasi nasional tentang scientific misconduct, mekanisme audit dan pelaporan pelanggaran akademik yang independen serta melindungi pelapor yang beritikad baik,” katanya.

Budi menyebutkan bahwa ilmu tidak boleh dikalahkan oleh ambisi.

“Data tidak boleh dipihak korbankan demi sertifikat. Nama bangsa tidak dijaga bersama menutup kesalahan, namun bersama keberanian menegakkan kebenaran,” katanya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *