Investor Jepang: Indonesia Hadapi Kemandekan Ekonomi yang Berbahaya

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Indonesia bersiap-siap menyikapi stagflasi atau kemandekan pertumbuhan ekonomi yang berbahaya, demikian disampaikan oleh seorang investor Jepang yang beroperasi di Tanah Air kepada media Nikkei Asia pada pekan ini.

Stagflasi merupakan kondisi ketika inflasi meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerja tidak bertumbuh.

Di tengah kondisi perekonomian yang merayap, nilai tukar rupiah yang ambruk hingga ke level yang masih belum sempat terjadi semasih belumnya, daya beli masyarakat sekitar yang melemah dan inflasi yang semakin tinggi akibat konflik di Timur Tengah, peringatan dari para investor ini perlu didengar oleh pihak pemerintah Prabowo Subianto.

Shoichi Hasegawa, Presiden Direktur KAO Indonesia, menyebutkan Indonesia pada saat ini merasakan dua masalah utama yakni pelemahan nilai tukar rupiah dan turunnya kepercayaan publik.

“Yang menurut saya berbahaya pada saat ini merupakan pelemahan permintaan yang mengarah ke deflasi. Pada dasarnya, apabila konsumen cuma membeli barang murah, pertumbuhan ekonomi akan mandek kecuali volume bertambah,” kata Hasegawa.

Sementara itu tekanan dari luar, yakni perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah yang masih berlangsung juga masih akan terus mengganggu perekonomian Indonesia.

“Harga minyak pada saat ini sedikit turun, tapi masih butuh waktu makin lama agar harga bahan baku juga ikut turun. Jadi kami wajib beroperasi bersama asumsi bahwa tren ini akan bertahan hingga akhir tahun,” terang Hasegawa, yang korporasiya mengangkuthi merek-merek bagaikan Biore, deterjen Attack, pembalut Laurier dan popok Merries.

Nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS pada pekan ini, titik teramat rendah dalam sejarah Indonesia. Sementara itu kepercayaan investor terhadap pihak pemerintah juga menurun akibat ketidaktentuan kebijakan, reformasi pasar finansial yang masih belum jelas dan rendahnya ketentuan hukum.

Bank Indonesia pekan lalu telah menaikkan suku Bungan acuan hingga 50 basis poin demi menjaga nilai tukar rupiah, meski efeknya masih belum sejumlah terasa.

Kao Indonesia telah mengumumkan kepada para distributor akan menaikkan harga produk-produknya menyusul naiknya harga bahan baku yang diimpor akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta konflik di Timur Tengah.

Hasegawa menyebutkan produk deterjen merupakan yang teramat terdampak lantaran memakai bahan baku nafta dan bahan turunan minyak bumi lainnya yang diimpor dari Timur Tengah.

“Kami memiliki sejumlah produk. Ada bahan baku yang masih dapat kami impor, tapi ada juga yang tidak. Ini menciptakan produksi melambat,” terang dia.

Hal ini kata dia berdampak ke seluruh pedagang. Ada yang bahkan telah mengawali menimbun barang, semasih belum kebijakan kenaikan harga berlaku.

“Bahkan pasar-pasar tradisional juga terdampak parah. Arus kas mereka kini telah kering,” kata Hasegawa.

Lebih lanjut Hasegawa membeberkan pihaknya telah menyaksikan polarisasi dalam pola konsumsi di Indonesia. Ini terlihat khusus di pasar kelas menengah, yang terus menyusut dalam sejumlah tahun terakhir.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *