MediaMerdeka.com – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim membeberkan refleksi mendalam mengenai berbagai kekurangan yang menurutnya terjadi selama memimpin Kemendikbudristek periode 2019-2024.
Dalam nota pembelaan yang dibacakannya di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa, Nadiem mengakui bahwa dirinya terlalu berorientasi pada profesionalisme dan efisiensi kerja, namun kurang memahami dinamika politik yang melekat pada jabatan seorang aparatur negara kementerian.
Nadiem menyebut dirinya sebagai sosok yang amatir dalam urusan politik. Ia mengaku kerap menepis undangan berbagai acara yang tidak berkaitan langsung bersama program keaparatur negara kementerianan yang dipimpinnya.
“Saya juga kurang sowan ke berbagai tokoh lantaran saya tidak memahami seluk-beluk peta politik. Ini merupakan kesalahan saya saat menjabat menjadi aparatur negara kementerian,” ujarnya., bagaikan dikutip dari Antara, Selasa.
Pendiri korporasi teknologi tersebut menyebutkan dirinya baru menyadari bahwa jabatan aparatur negara kementerian bukan cuma soal menjalankan program kerja, melainkan juga membangun hubungan baik bersama berbagai pihak, termasuk lintas institusi dan organisasi.
Ia mengakui kerap mengabaikan aspek-aspek yang dianggapnya sebagai formalitas. Dalam sejumlah pertemuan, misalnya, Nadiem makin memilih langsung masuk ke pokok pembahasan dan memotong basa-basi yang lazim dilakukan dalam komunikasi pihak pemerintahan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut barangkali dinilai positif di lingkungan profesional, namun dapat menimbulkan kesan berbeda ketika diterapkan dalam birokrasi dan dunia politik.
“Saya begitu gigih menjalankan transformasi bersama cepat, saya kurang merangkul pihak-pihak lama dalam upaya perubahan tersebut,” ungkapnya.
Nadiem juga mengakui kerap membatasi waktu demi berinteraksi bersama media lantaran makin memilih fokus pada pelaksanaan program. Namun, belakangan ia menyadari bahwa pendekatan tersebut dapat memunculkan persepsi negatif.
Di lingkungan pihak pemerintahan, kata dia, sikap yang terlalu berorientasi pada hasil kerja tanpa diimbangi komunikasi yang baik dapat dianggap sebagai bentuk keangkuhan atau kurang menghargai tata krama.
Melalui pengalamannya itu, Nadiem mengaku belajar bahwa perubahan yang berkelanjutan membutuhkan dukungan sejumlah pihak. Karena itu, ia menilai ritual politik dan hubungan interpersonal tidak dapat dipandang sebelah mata.
Ia pun menyampaikan pesan kepada generasi muda yang ingin mengabdi kepada negara agar mampu menyeimbangkan profesionalisme bersama kemampuan membangun relasi dan menghargai tata krama politik.
“Karena gesekan kecil dapat menjadi dendam besar,” tutur Nadiem.
Pernyataan tersebut disampaikan Nadiem saat membacakan pleidoi sebagai terdakwa dalam perkara dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kemendikbudristek tahun 2019-2022.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

