MediaMerdeka.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mengawali berlaku pada 10 Juni 2026 semakin menambah tekanan terhadap kondisi keuangan masyarakat sekitar kelas menengah. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, sejumlah pekerja mengaku terpaksa memangkas berbagai pengeluaran, mengawali dari penggunaan kendaraan pribadi hingga rencana liburan dan hiburan.
Septi (34), seorang pegawai swasta, mengaku kenaikan harga BBM menyerahkan dampak langsung terhadap anggaran bulanannya. Menurutnya, biaya hidup berpotensi meningkat lantaran efek berantai dari kenaikan harga energi.
“Sangat ngaruh, lantaran seluruh jadi ikutan mahal. Mobil saya juga boros dan tidak dapat pakai Pertalite, jadi bingung juga ke depannya,” ujar Septi kepada MediaMerdeka.com.
Kondisi ekonomi yang semakin menantang juga menciptakan Septi menunda sejumlah pengeluaran non-prioritas. Ia mengaku wajib makin selektif dalam mengalokasikan dana demi hiburan, termasuk menonton konser artis internasional yang belakangan ramai digelar di Indonesia.
“Tunda jalan-jalan dan konser. Sekarang benar-benar pilih-pilih, tidak mau sekadar ikut tren. Harus benar-benar suka baru nonton,” katanya.
Keluhan serupa datang dari Lidya, pekerja swasta bersama penghasilan setara Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta. Sebagai anak rantau yang tinggal di kos, ia merasakan langsung kenaikan biaya hidup sehari-hari, terutama demi kebutuhan makan.
“Kerasa banget. Saya ngekos dan setiap hari beli makanan. Ketoprak yang biasanya Rp18 ribu kini jadi Rp20 ribu,” ungkapnya.
Tak cuma kebutuhan pokok, rencana perjalanan ke luar negeri pun terancam batal. Pelemahan rupiah dan mahalnya harga tiket pesawat menciptakan biaya perjalanan melonjak signifikan.
“Jadi makin berat mau ke luar negeri. Januari lalu saya beli tiket ke Kuala Lumpur sekitar Rp2 juta. Kemarin cek lagi demi Agustus, telah Rp3 juta bersama maskapai yang sama,” kata Lidya.
Sementara itu, Rahma yang juga berstatus pekerja bersama gaji UMR Jakarta mengaku semakin berhati-hati mengatur keuangan. Ia khawatir kenaikan harga BBM dan tekanan ekonomi akan semakin memperburuk kondisi keuangan rumah tangganya.
“Gaji telah tidak cukup, apalagi kini kantor juga kerap telat bayar gaji pegawainya,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan tekanan yang semakin besar terhadap kelompok kelas menengah Indonesia. Kenaikan harga BBM non-subsidi, lonjakan biaya kebutuhan sehari-hari, hingga melemahnya daya beli akibat depresiasi rupiah menciptakan sejumlah keluarga wajib menyesuaikan pola konsumsi mereka. Pengeluaran demi hiburan, wisata, hingga penggunaan kendaraan pribadi menjadi pos pertama yang dipihak korbankan demi menjaga kestabilan keuangan di tengah ketidaktentuan ekonomi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

