MediaMerdeka.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan pentingnya penguatan karakter generasi muda melalui penanaman nilai-nilai budaya, moral, dan kebangsaan sebagai fondasi menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak cuma ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, namun juga oleh karakter yang kuat.
“Peradaban besar ditopang oleh pengetahuan dan dipertahankan oleh karakter. Karena itu, tugas kita pada hari ini merupakan fokus membangun karakter dan mengusung kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” ujar Bima saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Bima menerangkan, tantangan pembentukan karakter pada saat ini semakin besar seiring perkembangan media sosial yang mebarangkalikan cepatnya sebaran informasi tanpa senantiasa diiringi proses verifikasi. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, etika, dan kebijaksanaan agar mampu menyaring informasi serta tetap berpegang pada kebenaran.
Ia menilai upaya menyiapkan generasi penerus bangsa tidak cukup cuma melalui pendidikan formal dan peningkatan kompetensi. Menurutnya, karakter dan integritas wajib berjalan beriringan bersama kecerdasan agar mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas dan bertanggung jawab.
Dalam kesempatan tersebut, Bima juga mengajak generasi muda demi memiliki wawasan global tanpa meninggalkan akar budaya dan identitas kebangsaan. “Melayu itu kosmopolitan. Menjejak bumi Melayu, berpijak di bumi Nusantara, dan menatap dunia. Itulah para founding fathers kita. Mereka berangkat dari budaya lokal, berpikir dalam bingkai nasional, dan berkiprah di tingkat global,” katanya.
Lebih lanjut, Bima menuturkan bahwa tradisi intelektual Melayu telah melahirkan sejumlah tokoh yang berkontribusi penting untuk bangsa, bagaikan Raja Ali Haji dan Buya Hamka. Menurutnya, pemikiran dan keteladanan para tokoh tersebut tetap relevan dalam membangun karakter generasi muda di tengah berbagai tantangan zaman.
Karena itu, ia menginginkan ISMI dapat menjadi ruang yang aktif dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, etika, dan kebangsaan melalui berbagai kegiatan edukasi dan pengembangan pemikiran. Upaya tersebut dinilai penting demi menyiapkan generasi muda yang mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus memanfaatkan peluang bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

