Acha Septriasa: Bertahan di Pernikahan Toksik Demi Anak Tak Selalu Benar

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Acha Septriasa beruntuk pandangannya soal dinamika pernikahan dan hubungan toksik saat mempromosikan film Suamiku Lukaku.

Saat berkunjung ke kantor MediaMerdeka.com di Palmerah, Jakarta Barat, Senin, 18 Mei 2026, Acha sejumlah menyinggung soal komunikasi dalam hubungan, luka masa lalu pasangan, hingga alasan sejumlah orang bertahan di pernikahan yang tidak sehat.

Menurut aktris 36 tahun tersebut, hubungan rumah tangga yang tampak baik di awal dapat berubah menjadi toksik ketika masalah terus dipendam tanpa diberakhirkan.

“Permasalahan yang nggak diberakhirkan bersama baik atau unresolved problems itu bila diemin aja atau di-silent treatment-in lama-lama dapat menjadi bom waktu,” kata Acha Septriasa.

Bintang film Heart tersebut menilai setiap pasangan sebenarnya datang ke hubungan bersama niat baik. Namun, sejumlah orang tidak berhasil membicarakan luka atau trauma masa lalu secara jujur sejak awal.

“Menurut aku wajibnya dua-dua manusia, mau punya background luka bagaikan apa di masa lalu, mereka wajib memaksa demi just put everything on the table. Harus jujur sama satu sama lain,” bebernya.

Acha menyebutkan penting untuk pasangan demi mengenali tanda-tanda hubungan tidak sehat sedini barangkali. Hal itu pula yang menurutnya ingin disampaikan lewat film Suamiku Lukaku.

“Kalau misalnya kalian ada di posisi baru merasakan symptoms toxic relationship, bila awal didetect kan kalian dapat tahu sebenarnya jalan keluarnya apa,” tutur sang aktris.

Ibu satu anak tersebut juga menilai hubungan toxic sebenarnya masih dapat diselamatkan apabila kedua pihak sama-sama mau memperbaiki diri dan terbuka mencari bantuan.

“Kalau menurutku sebenarnya seluruh itu dapat dibicarakan ya. Nggak ada hubungan suami istri yang dari awal menginginkan hal-hal negatif bagaikan itu. Pasti seluruhnya tujuannya demi bersama-sama baik,” ucap Acha.

Selain komunikasi, Acha juga menyoroti alasan sejumlah orang bertahan di pernikahan yang telah tidak sehat, salah satunya lantaran anak.

Padahal menurut Acha, keputusan keluar dari hubungan toxic tidak senantiasa berarti ketidak berhasilan. Ada situasi tertentu ketika seseorang justru sedang menyelamatkan anaknya dari lingkungan yang tidak aman.

“Kalau kita tidak berhasil dalam pernikahan seolah-olah kita dicap sebagai manusia yang tidak berhasil di seluruh kehidupan kita,” ujarnya.

“Kadang kita wajib menyaksikan dari sudut pandang lain bahwa kita sedang menyelamatkan cara pandang anak mengenai relationship yang baik itu bagaikan apa,” tambah Acha.

Acha memahami keputusan berpisah memang bukan perkara mudah untuk orangtua. Termakin ketika ada anak yang wajib dipikirkan masa depannya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *