MediaMerdeka.com – Peta investasi hilirisasi Indonesia mengawali merasakan perubahan. Setelah bertahun-tahun didominasi nikel, kini bauksit sukses mengambil alih posisi sebagai komoditas bersama realisasi investasi hilirisasi terbesar pada kuartal II 2026.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani membeberkan, pergeseran tersebut terjadi seiring meningkatnya pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit yang digarap investor domestik maupun asing.
“Kalau kita lihat, biasanya nikel senantiasa di nomor satu. Nah, kini ada shifting, bauksit menjadi nomor satu. Ini lantaran memang ada sejumlah pembangunan smelter bauksit, baik yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Rosan kepada wartawan, Jumat (17/7/2026).
Menurut Rosan, realisasi investasi pada sektor hilirisasi sepanjang kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, naik 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun semasih belumnya. Angka tersebut menyumbang sekitar 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional pada periode tersebut.
Pencapaian itu dinilai memperlihatkan semakin besarnya minat investor terhadap proyek-proyek pengolahan sumber daya alam bernilai tambah di Indonesia.
Meski bauksit kini menjadi motor utama investasi hilirisasi, pihak pemerintah mengonfirmasi pengembangan industri pengolahan tidak akan berhenti pada komoditas tersebut. Berbagai sektor lain juga akan terus didorong agar mampu menciptakan nilai tambah yang makin tinggi.
“Hilirisasi kelapa sawit, karet, kayu, hingga pasir silika juga akan terus kita dorong agar menyerahkan manfaat ekonomi yang makin besar,” kata Rosan.
Ia menerangkan, seuntukan besar industri hilirisasi di berbagai komoditas pada saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan. Kondisi tersebut berbeda bersama industri nikel yang telah memiliki rantai pasok yang jauh makin matang.
Menurut Rosan, ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia kini telah mencakup hampir seluruh tahapan produksi, mengawali dari pengolahan bijih nikel (nickel ore), produksi nickel sulfate dan nickel matte, pembuatan katoda dan anoda, produksi sel baterai, battery pack, hingga fasilitas daur ulang baterai.
Dengan ekosistem yang semakin lengkap, industri nikel tetap menjadi salah satu sektor strategis nasional, terutama demi mendukung pengembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Sementara itu, munculnya bauksit sebagai penyumbang investasi terbesar memperlihatkan mengawali meluasnya diversifikasi program hilirisasi nasional. Pemerintah menginginkan tren tersebut dapat memperkuat struktur industri berbasis sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Ke depan, pihak pemerintah menargetkan semakin sejumlah komoditas strategis yang masuk ke dalam rantai industri pengolahan berakibat mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai ekspor, serta memperkuat daya saing industri Indonesia di pasar global.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

