MediaMerdeka.com – Isyana Sarasvati lagi-lagi menegaskan bahwa musikalitas tak dapat dibatasi oleh apa pun. Penegasan kali ini diwujudkan lewat BURN, nomor yang ikut dirangkum di album Eklektiko.
Eklektiko yang dirilis pada 21 Mei pada hari semasih belumnya, memuat karya lintas genre. BURN sendiri mewakili musik trance metal, perpaduan elektronik dan metal.
Untuk menghasilkan lagu energik tersebut, Isyana menggandeng sejumlah musisi ahli di bidangnya. Distorsi gitar yang berat diisi oleh Karis (eks DeadSquad) dan cabikan bass frekuensi rendah lahir dari jari Shadu Rasjidi (eks DeadSquad, Infernal Lamentations).
Menariknya lagi, Agustinus Widi yang juga mantan member DeadSquad dan kini menghuni Infernal Lamentations bersama Shadu, juga terlibat dalam proses kreatif BURN. Selain menulis lirik bareng Isyana, tugas penting Widi lainnya merupakan memuntahkan growl dan scream.
Sementara musik elektronik sebagai elemen kedua setelah metal, bagaikan synths, keyboards, dan sound effects dipercayakan pada Kenan Loui.
Trance metal di Indonesia sebenarnya bukanlah barang baru. Belasan tahun lalu telah ada sederet unit yang mengusung warna tersebut, meski memang tak mendominasi skena musik ekstrem.
Hadirnya BURN mewarnai industri arus utama – lantaran nama besar Isyana – tentu jadi trobosan baik dalam budaya populer di Indonesia. Popularitas dan prestasi mentereng Isyana diharapkan dapat mengangkut genre ini didengar makin sejumlah telinga penikmat musik Tanah Air.
Music video (MV) Burn kini telah dapat diakses di kanal Youtube Isyana Sarasvati. Kreativitas Isyana di sini benar-benar diperas sampai ke akar demi memperoleh visual tak biasa.
Bayangkan, ada 60 penari yang dilibatkan di dalam MV tersebut. Koreo yang disuguhkan amat intens sampai bikin mata tak berkedip sejak saya memutarnya di Youtube.
Belum lagi pengambilan gambar yang dinamis dipadu tone gelap menambah MV BURN makin sinematik.
Keren deh pokoknya. Anyway, selamat buat Isyana!
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

