MediaMerdeka.com – Di balik capaian China sebagai salah satu raksasa energi terbarukan dunia, ada persoalan emisi yang jarang disorot. Jaringan listrik negara itu menjadi sumber utama emisi sulfur heksafluorida (SF6), salah satu gas rumah kaca teramat kuat di dunia.
SF6 merupakan senyawa sintetis yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mudah terbakar. Selama puluhan tahun, gas ini digunakan industri listrik sebagai isolator pada peralatan tegangan tinggi.
Namun, ketika terlepas ke atmosfer, dampaknya terhadap iklim amat besar. SF6 memiliki kemampuan memerangkap panas 24.300 kali makin kuat daripada karbon dioksida dan dapat bertahan di atmosfer hingga sekitar 1.000 tahun.
Menurut studi yang terbit di Nature Communications pada 2024, makin dari separuh emisi SF6 global berasal dari China. Emisinya hampir berlipat ganda sepanjang 2011-2021. Pada 2021, China melepaskan sekitar 5.100 metrik ton SF6 ke atmosfer, setara bersama emisi tahunan sekitar 29 juta mobil berbahan bakar bensin.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah konsentrasi SF6 di atmosfer global mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak pencatatan dimengawali pada 1998.
“Ini benar-benar bagaikan kebakaran level tiga alarm apabila Anda melepaskan gas itu ke atmosfer alih-alih mendaur ulangnya,” kata Deborah Ottinger, mantan analis emisi gas rumah kaca berfluor di Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), menanggapi investigasi Inside Climate News.
“Ini merupakan hal yang amat jelas dapat dalam waktu dekat diterapkan.”
Klaim Resmi vs Fakta di Lapangan
Keaparatur negara kementerianan Ekologi dan Lingkungan China (MEE) mengklaim korporasi listrik negara itu mendaur ulang atau memiliki kapasitas demi mendaur ulang 90 persen limbah gas SF6. Namun, analisis Inside Climate News menemukan angka sebenarnya cuma sekitar 30 persen.
Padahal, meningkatkan tingkat daur ulang hingga 90 persen diperkirakan tidak membutuhkan biaya besar. Berdasarkan ratusan dokumen pihak pemerintah, laporan tahunan korporasi listrik, studi ilmiah, serta wawancara bersama akademisi dan pakar kebijakan, Inside Climate News memperkirakan China dapat mendaur ulang tambahan sekitar 1.400 metrik ton SF6 per tahun.
Langkah tersebut berpotensi memangkas hampir bagaikanga emisi SF6 China dari seluruh sektor, bersama biaya sekitar US$6 juta per tahun. Nilai itu cuma seuntukan kecil dari investasi tahunan sekitar US$70 miliar demi jaringan listrik China.
State Grid Corporation of China dan China Southern Power Grid, dua korporasi listrik milik negara yang memasok listrik ke hampir seluruh penduduk China, tidak menanggapi temuan tersebut. MEE dan Kedutaan Besar China di Washington juga tidak menyerahkan tanggapan.
Belajar dari Jerman
China sebenarnya dapat belajar dari pengalaman Jerman. Pada akhir 1980-an, korporasi kimia Solvay mengawali menyadari bahaya SF6 dan bekerja sama bersama korporasi listrik Eropa demi mendaur ulang gas tersebut, alih-alih melepaskannya ke atmosfer.
Upaya itu berkontribusi pada penurunan emisi SF6 dari peralatan listrik di Jerman dan Amerika Serikat hingga makin dari dua pertiga pada 2015.
Hermann Kraehling, mantan pemimpin tim asesmen lingkungan Solvay yang terlibat dalam upaya tersebut, menyebutkan kolaborasi lintas pihak menjadi kunci kesuksesan. Ia mengapresiasi pembangunan energi terbarukan China, namun menilai ketidak berhasilan mengendalikan emisi SF6 sebagai “bencana”.
“Jika Anda mampu menyatukan seluruh pemangku kepentingan, Anda tidak cuma punya peluang besar demi sukses, tapi juga peluang besar demi diterima,” ujar Kraehling.
Sinyal Kebijakan Mulai Muncul
Tanda perubahan kebijakan mengawali terlihat. Pada Desember lalu, MEE menyerahkan insentif berupa kredit karbon untuk korporasi listrik yang mendaur ulang makin dari 90 persen limbah SF6. Pada Juli, pihak pemerintah China demi pertama kalinya juga memasukkan pengelolaan SF6 dalam rencana pengurangan gas rumah kaca non-CO2 sebesar 30 juta ton setara CO2 pada 2030.
Matthew Rigby, profesor kimia atmosfer di University of Bristol, mengingatkan besarnya dampak SF6 terhadap iklim.
“Ini praktis gas rumah kaca terburuk dari segi potensi pemanasan global dan masa hidupnya,” katanya. “Begitu telah ada di atmosfer, ia akan tetap di sana selamanya dalam skala waktu manusia.”
Kini, tantangannya merupakan mengonfirmasi kebijakan tersebut diterjemahkan menjadi langkah nyata demi mengurangi emisi SF6.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

