Deforestasi dan Karhutla Disebut Jadi Lingkaran Setan: Mengapa?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun di Indonesia ternyata punya pola yang makin rumit dari sekadar musim kemarau panjang.

Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia menyebut deforestasi dan karhutla kini saling mengunci dalam sebuah lingkaran setan: deforestasi menciptakan kebakaran makin intens, dan kebakaran yang terjadi kembali mempercepat hilangnya tutupan hutan.

Semakin sempit hutan yang tersisa, semakin rentan pula kawasan itu terbakar di musim berikutnya.

Peringatan itu muncul di tengah luasnya kawasan yang telah terdampak pada tahun ini. Berdasarkan data Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan (Sipongi) Keaparatur negara kementerianan Kehutanan, hingga Selasa (8/9/2026) pukul 10.17 WIB, indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla telah mencapai 76.922,3 hektare.

Bagi IRI, angka ini menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan api dan asap musiman, melainkan kerusakan ekologis yang menggerus tutupan hutan, habitat satwa, kualitas udara, hingga sumber air dalam jangka panjang, dampak yang kerap kali baru terlihat setelah berbulan-bulan.

Pola yang digambarkan IRI ini konsisten bersama temuan ilmiah dari lapangan. Studi yang dipublikasikan di jurnal Remote Sensing pada 2020 oleh peneliti University of Leeds bersama IPB University menelusuri sejarah tutupan lahan di Provinsi Riau, Sumatra, sejak 1990. Hasilnya, kebakaran teramat kerap muncul justru di kawasan yang sedang berubah fungsi, terutama saat hutan sekunder beralih menjadi semak belukar semasih belum akhirnya dibuka jadi perkebunan.

Riset lanjutan dari tim peneliti yang sama bahkan mencatat, kawasan yang kehilangan tutupan hutan di Riau memiliki frekuensi kebakaran enam kali lipat dibanding kawasan yang tutupan hutannya tetap utuh. Dengan kata lain, deforestasi bukan cuma dampak dari karhutla, tapi juga salah satu pemicu awalnya.

Dampak lingkaran setan ini juga mengawali terasa pada satwa liar di dalam negeri. Awal September 2026, Guru Besar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menyoroti dampak sistemik karhutla di Kalimantan dan Sumatra terhadap orangutan, satwa yang populasinya telah berstatus kritis.

Ia mencatat kerusakan habitat akibat deforestasi dan kebakaran turut menekan populasi orangutan Tapanuli yang kini tersisa sekitar 716–800 ekor, sementara populasi orangutan Kalimantan tinggal sekitar 104.700 ekor. Orangutan, kata Prof. Ronny, kehilangan sumber pangan sekaligus terpapar polusi asap di tengah hutan yang terus menyusut.

Melihat kaitan yang berlapis ini, IRI mengapresiasi langkah pihak pemerintah dalam pengawasan, penindakan, dan penyelidikan dugaan unsur kesengajaan pembakaran. Namun lantaran karhutla merupakan persoalan yang berulang setiap tahun, IRI menilai kesuksesan penanganan tidak dapat lagi diukur cuma dari seberapa cepat api dipadamkan.

Mereka menegaskan bahwa yang dibutuhkan merupakan perbaikan tata kelola penggunaan lahan, perlindungan tegas atas kawasan hutan yang tersisa, serta restorasi ekosistem yang teramat rentan terbakar—agar lingkaran setan deforestasi dan karhutla ini benar-benar dapat diputus, bukan sekadar dipadamkan sesaat.

Penulis: Inesia Dian

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *