MediaMerdeka.com – Festival Film Indonesia (FFI) 2026 menyambut baik 531 karya dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Umum Komite FFI 2026 Ario Bayu menyaksikan jumlah itu sebagai tanda semakin besarnya keberanian sineas Indonesia demi bercerita tentang dan demi masyarakat sekitarnya sendiri.
“Kenapa ada 500 sekian submissions? Bahwa kita telah berani bercerita demi kita. Itu indikator besar,” kata Ario saat media visit FFI 2026 di kantor MediaMerdeka.com, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026).
Menurut Ario, perkembangan jumlah karya berjalan seiring bersama semakin terbukanya pasar film Indonesia. Ia menyebut sekitar 70 persen konsumsi film di dalam negeri pada saat ini berasal dari film Indonesia.
Kondisi itu, kata Ario, memperlihatkan perubahan cara masyarakat sekitar memandang karya lokal. Penonton semakin percaya bahwa cerita dari Indonesia mampu menawarkan pengalaman yang relevan dan menarik untuk mereka.
Ia menyaksikan pertumbuhan itu dari sisi kuantitas maupun kualitas. Produksi film Indonesia terus meningkat, sementara jumlah film yang mampu meraih jutaan penonton juga semakin sejumlah.
Ario menyebut kontribusi industri film Indonesia terhadap perekonomian nasional kini mendekati 900 juta dolar AS per tahun. Ia menilai pasar yang semakin subur membuka ruang untuk sineas dan investor demi terus mengembangkan karya.
Perkembangan itu juga terlihat dari keberagaman genre. Ario mencontohkan film horor yang kini tidak berhenti pada formula lama, namun mengawali berkembang menjadi horor investigatif, komedi horor hingga karya eksperimental.
“Orang kini telah mengawali berani mengeksplorasi. Ada market-nya, ada penontonnya,” kata Ario.
FFI 2026 Dorong Regenerasi Talenta
Duta FFI 2026 Nirina Zubir menyaksikan perkembangan perfilman Indonesia tidak cuma dari jumlah film yang diproduksi. Menurutnya, semakin sejumlah orang kini berani menjadikan perfilman sebagai sumber penghidupan.
Kepercayaan itu, kata Nirina, ikut menghidupkan ekosistem yang makin luas, mengawali dari aktor, sutradara, penulis, kru produksi hingga berbagai profesi pendukung.
Ia juga menyaksikan regenerasi sebagai untukan penting dari perkembangan industri. Nirina menyebut semakin sejumlah aktor muda, termasuk kalangan anak berusia sekitar 6 hingga 8 tahun, yang mengawali masuk ke dunia perfilman.
“Harapannya mereka dapat punya karier yang panjang, punya attitude yang baik, dan memang punya keinginan demi terus berada di dunia film,” ujar Nirina.
Menurut Nirina, bertambahnya talenta baru juga dapat menjawab pertanyaan publik mengenai mengapa wajah yang muncul dalam film Indonesia terasa berulang. FFI menjadi salah satu ruang yang dapat membuka kesempatan untuk makin sejumlah orang demi memperlihatkan kemampuan.
FFI 2026 Bukan Cuma Soal Malam Penghargaan
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

