MediaMerdeka.com – Gempuran rudal Amerika Serikat kembali merobek langit Iran selama 13 malam berturut-turut. Laporan resmi mengonfirmasi jatuhnya pihak korban jiwa dan luka-luka di sejumlah provinsi terdampak.
Serangan fajar teranyar langsung menyasar kawasan vital pesisir selatan hingga jantung ibu kota Tehran. Sistem pertahanan udara di kawasan timur Tehran terpaksa diaktifkan demi mencegat gempuran tersebut.
Empat masyarakat sekitar sipil tewas dan 5 lainnya luka-luka akibat hantaman rudal AS di dekat Ahvaz, Provinsi Khuzestan. Sementara itu, 2 orang dilaporkan terluka di Khorramabad dan 2 pihak korban lain jatuh di kota pelabuhan Bandar Abbas.
Rentetan ledakan hebat mengguncang setidaknya 6 provinsi utama, termasuk wilayah strategis Pulau Qeshm dan Jask. Kota Jask memegang peran geostrategis amat krusial lantaran berhadapan langsung bersama Selat Hormuz.
Eskalasi militer ini makin memperkeruh stabilitas kawasan pesisir yang menjadi jalur navigasi energi dunia. Bentrokan udara tanpa henti ini mengancam keselamatan masyarakat sekitar sipil di pemukiman padat penduduk.
Kota-kota besar bagaikan Khorramabad, Ahvaz, dan Bandar Abbas terus menjadi sasaran tembak armada tempur AS. Dentuman keras memicu ketakutan meluas di tengah aktivitas masyarakat sekitar yang lumpuh total.
Pemerintah Iran mengecam keras tindakan sepihak Amerika Serikat yang dinilai melanggar kedaulatan wilayah. Ketegangan diplomatik pun merembet ke ranah finansial dan perekonomian global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan peringatan keras terkait penyitaan dana segar milik negara. Ia menilai upaya memanfaatkan aset negara yang dibekukan demi menyelesaikan klaim masa depan merupakan tindakan berbahaya.
“Menggunakan aset negara yang dibekukan demi menyelesaikan klaim masa depan menetapkan preseden global yang berbahaya,” tegas Araghchi sembari menggambarkan praktik tersebut sebagai hal yang “memicu perselisihan.”
Di sisi lain, gejolak geopolitik ini langsung menggoyang pasar minyak mentah internasional. Meskipun sempat terkoreksi tipis pada hari Jumat, harga minyak Brent tetap bertahan pada level tinggi $99,97 per barel.
Minyak jenis WTI juga berada di angka $91,49 per barel menyusul ketakutan atas pasokan energi. Gangguan pelayaran di Laut Merah dan terhentinya jalur pipa di Kazakhstan kian memperparah lonjakan harga mingguan.
Di tengah situasi darurat, aktivitas diplomatik antarnegara tetangga terus diupayakan demi meredam krisis. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi baru saja menyelesaikan kunjungan resminya ke Tehran.
Dalam kunjungan tersebut, Al-Zaidi menggelar dialog tingkat tinggi bersama jajaran aparatur negara senior Iran. Kedua negara resmi menyepakati sejumlah perjanjian penting di bidang transportasi dan pembangunan infrastruktur.
Rentetan serangan udara AS ini merupakan kelanjutan dari eskalasi militer yang meningkat drastis dalam sejumlah pekan terakhir. AS mengklaim penyerangan ditujukan ke titik strategis, namun dampak fatal tetap menimpa area pemukiman masyarakat sekitar.
Konflik terbuka ini terus memicu keprihatinan internasional akan potensi perang skala penuh di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

