Menjaga Protein dari Hulu, Misi SPHP Jagung Meredam Gejolak Harga Telur

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Beberapa butir telur ayam tersisa di rak dapur Erni. Ia menghitungnya ulang semasih belum berangkat belanja ke pasar dekat rumahnya di Bantul, mengonfirmasi persediaan sumber protein demi kedua anak balitanya hari itu cukup.

Sebulan lalu, Erni sempat mengurangi jumlah telur yang dibeli lantaran harganya melonjak saat lebaran. Dari biasanya sekitar Rp25 ribu per kilogram, harga telur naik menjadi Rp32 ribu dan menciptakan pengeluaran dapurnya ikut berubah.

Padahal, telur menjadi sumber protein utama yang senantiasa hadir di meja makannya. Selain mudah diolah, harganya dianggap teramat barangkali dijangkau dibanding sumber protein hewani lain yang ikut merangkak naik.

“Pusing bila harga telur naik,” kata Erni saat berbincang bersama MediaMerdeka.com, Senin (11/5/2026).

Kondisi serupa dirasakan Nia, ibu rumah tangga lain di Yogyakarta. Anak semata wayangnya sempat didiagnosa gizi kurang lantaran berat badannya yang sulit bertambah.

Setelah mendapat pemantauan dari tenaga kesehatan di Puskesmas, ia mengawali memperbaiki isi piring makan anaknya bersama menambah jumlah protein hewani. Telur ayam tak sempat absen dari menu makan harian anaknya.

“Pas harga telur naik terasa banget, tapi mau nggak mau dibeli, yang teramat terjangkau cuma itu,” kata Nia.

Dietisien Sentra Medika Hospital Minahasa Utara, Adelwais Febriati Yurni, S.Gz, Dietisien menyebutkan, stabilitas harga telur ikut memengaruhi kualitas konsumsi protein harian masyarakat sekitar, terutama kalangan anak. Berbeda bersama daging sapi yang masih dianggap sebagai bahan pangan premium lantaran harganya relatif mahal, telur makin mudah diakses dan dikonsumsi setiap hari.

“Kalau harga telur naik, kebarangkalian masyarakat sekitar akan menilainya sebagai barang mewah bagaikan daging sapi. Dampaknya masyarakat sekitar nggak dapat beli, asupan protein jadi rendah,” ujar Adel kepada MediaMerdeka.com.

Merujuk Angka Kecukupan Gizi Keaparatur negara kementerianan Kesehatan, anak usia 1–3 tahun membutuhkan sekitar 20 gram protein per hari, sementara itu anak usia 4–6 tahun membutuhkan sekitar 25 gram protein per hari. Sementara satu butir telur mengandung sekitar 6,3-7 gram protein.

Kekurangan asupan protein dalam jangka panjang dapat memengaruhi pertumbuhan anak, menurunkan imunitas, gangguan kognitif hingga berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat sekitar secara umum.

“Menjaga harga telur bukan cuma masalah ekonomi, namun juga menjaga kualitas sumber daya manusia dan generasi mendatang,” kata Adel.

Di balik fluktuasi harga telur, ada komoditas yang ikut menentukan biaya produksinya, yakni jagung pakan. Ketika harga jagung naik, biaya produksi peternak ikut naik dan berdampak pada stabilitas harga telur di pasaran.

Sejak akhir 2025, pihak pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengawali menyalurkan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung demi peternak ayam petelur mandiri. Program ini ditujukan demi menolong peternak menekan biaya pakan di tengah tingginya harga jagung.

Data Bapanas per 12 Mei 2026 memperlihatkan harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp6.848 per kilogram atau 18,07 persen di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp5.800. Di saat bersamaan, harga telur justru turun hingga di bawah Rp25 ribu per kilogram, makin rendah dari HAP telur sebesar Rp26.500.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *