MediaMerdeka.com – Amerika Serikat siap melumpuhkan perekonomian Iran melalui sanksi ekonomi berskala masif yang mengawali berlaku efektif pekan depan. Langkah dramatis ini diambil Washington demi memperketat tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali membara.
Rencana pemberlakuan sanksi berat ini dikonfirmasi langsung oleh aparatur negara tinggi keuangan pihak pemerintah AS.
“Nantikan pengumuman makin lanjut pekan depan lantaran kami akan menerapkan langkah-langkah yang masih belum sempat ada semasih belumnya dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara,” ujar Bessent dalam wawancara bersama Newsmax.
Pemerintah AS tidak cuma mengandalkan embargotfinansial, namun juga menyiapkan strategi blokade fisik di jalur perdagangan strategis. Skenario pengetatan ini dirancang demi menutup akses ekonomi Teheran secara menyeluruh dari dunia luar.
Bessent mengimbuhkan bahwa langkah ini akan mencakup kombinasi antara isolasi ekonomi yang masih belum sempat terjadi semasih belumnya dan pemblokiran makin lanjut terhadap Selat Hormuz.
Langkah keras Washington merupakan respons atas tidak berhasilnya kesepakatan damai yang semasih belumnya sempat menyerahkan angin segar untuk kedua negara. Ketegangan kembali memuncak setelah Amerika Serikat secara sepihak membatalkan komitmen penghentian tembak-menembak.
Bagaimana Eskalasi Militer AS dan Iran Kembali Meletus?
Meski Teheran dan Washington telah menandatangani nota kesepahaman demi mengakhiri konflik yang bermula pada 28 Februari, pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.
Pembatalan kesepakatan tersebut langsung diikuti bersama pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat ke wilayah pertahanan Iran. Washington mengklaim aksi gempuran militer tersebut merupakan tindakan balasan demi melindungi jalur pelayaran internasional.
Sejak saat itu pasukan AS telah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih serangan-serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran yang menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Teheran merespons aksi militer AS tersebut bersama melancarkan serangan balasan yang membidik fasilitas militer lawan. Pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah menjadi sasaran tembak militer Iran.
Iran tak tinggal diam. Militernya membalasnya bersama menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Mengapa Diplomasia Jalur Laut Tetap Ditempuh di Tengah Konflik?
Dinamika konflik sempat melunak ketika pihak Gedung Putih mempertimbangkan kembali opsi militer demi membuka ruang negosiasi baru. Peluang perdamaian tersebut mencakup pengaturan ulang program nuklir serta keamanan navigasi laut.
Pada awal Agustus, Trump mengumumkan bahwa ia telah membatalkan serangan terhadap Iran mengingat adanya potensi kesepakatan damai, yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dan kesepakatan mengenai program nuklir.
Di tengah ancaman sanksi dan aksi militer, diplomasi regional sejatinya terus berjalan demi mengamankan perairan vital tersebut. Pemerintah Iran menjalin kerja sama bersama negara tetangga guna mengonfirmasi koridor pelayaran tetap teratur.
Sementara itu, Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Iran menegaskan Iran dan Oman telah menyepakati rincian geografis rute pelayaran untuk kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran ini memuncak sejak akhir Februari lalu dan memicu ketegangan pasokan energi global di Selat Hormuz. Meskipun sempat menyepakati gencatan senjata pada bulan Juli, perbedaan pandangan atas keamanan navigasi kapal komersial dan program nuklir menciptakan kedua negara kembali berkonfrontasi secara militer dan ekonomi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

