MediaMerdeka.com – Kecerdasan buatan atua AI tak cuma bikin sejumlah pengangguran di dunia lantaran menggantikan pekerjaan manusia. Ekspansi agresif pusat data kecerdasan buatan di India kini berbenturan langsung bersama krisis air bersih masyarakat sekitar. Lebih dari separuh fasilitas pemrosesan pusat data AI tersebut berdiri di kawasan yang merasakan krisis air parah.
Masyarakat di kawasan padat Khora, Ghaziabad, terpaksa menanggung dampak ganda dari penyedotan air tanah tak terkendali. Mereka wajib mengeluarkan biaya besar demi sumur bor di tengah janji pasokan air tak terbatas untuk industri.
Janji pihak pemerintah daerah demi menyerahkan pasokan air nonstop kepada pengembang pusat data justru memperlebar jurang ketimpangan sosial. Warga lokal kini kehilangan akses prioritas atas kebutuhan air minum mendasar.
Ketua Asosiasi Warga Khora, Deepak Joshi, membeberkan kepasrahan masyarakat sekitar yang telah bertahun-tahun mencari ketentuan air bersih.
“Kami bergantung pada air tanah. Di sejumlah wilayah, seseorang wajib menggali 1.000 hingga 1.200 kaki (305-366 meter) demi mengambil air,” kata Deepak Joshi kepada DW.
Permasalahan pasokan air di pemukiman ini terus berlarut tanpa ada titik terang dari pihak pemerintah setempat.
“Warga telah berusaha menyelesaikan masalah air di Khora selama 10 tahun terakhir, namun tidak ada yang berubah,” ujar Joshi.
Bagaimana Pusat Data Memperparah Krisis Air Lokal?
Fasilitas server modern membutuhkan jutaan liter air dingin demi menjaga suhu mesin tetap stabil. Lonjakan suhu dari pembuangan panas sistem pendingin pusat data bahkan menaikkan suhu mikro lingkungan sekitar.
Naeemuddin Saifi, seorang tukang kayu di Khora, mengaku terbeban oleh biaya iuran sumur bersama setiap bulannya. Saifi membayar 1.000 hingga 1.200 rupee per bulan demi menyambung kebutuhan harian.
Keterbatasan finansial memaksa sejumlah keluarga di Khora demi beruntuk biaya pembuatan sumur bor yang mahal.
“Saya tidak sanggup menanggung biayanya sendirian,” tutur Saifi.
Pembuatan sumur bor membutuhkan modal hingga setengah juta rupee (sekitar 5.250 dolar AS) yang mustahil dijangkau masyarakat sekitar miskin. Joshi menegaskan bahwa solusi sumur bor tetap tidak menjamin ketersediaan air jangka panjang.
Ancaman penurunan debit air tanah sewaktu-waktu menciptakan masa depan masyarakat sekitar Khora kian tidak tentu.
“Bahkan sumur bor pun bukan solusi permanen. Permukaan air dapat turun kapan saja. Mungkin dalam dua bulan, atau dapat jadi enam bulan; kita tidak sempat tahu,” kata Joshi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

