Penjelasan NASA Bumi Tidak Mengelilingi Matahari

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Bumi dan planet-planet di tata surya ternyata tidak sempat mengelilingi titik pusat Matahari secara langsung. Seluruh benda langit tersebut bergerak mengitari titik keseimbangan massa bersama bernama barisentrum yang kerap berada di luar Matahari.

Penyederhanaan materi pelajaran sekolah selama ini menyembunyikan fakta dinamisnya gerak orbit ruang angkasa. Pemahaman baru ini mengubah cara pandang awam mengenai gravitasi yang selama ini dianggap bekerja secara satu arah.

Planet raksasa bagaikan Yupiter dan Saturnus menarik pusat massa tata surya keluar dari tubuh Matahari. Interaksi gravitasi antarobjek berukuran masif secara konsisten menggeser titik orbit bersama tersebut.

Meskipun Matahari menyerap porsi massa terbesar, gravitasi tetap berlaku dua arah untuk setiap objek. Massa Bumi yang amat kecil sekalipun tetap menyerahkan gaya tarik balasan terhadap Matahari.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menerangkan mekanisme hukum mekanika benda langit ini melalui keterkaitan massa.

“Hukum ketiga Kepler menerangkan hubungan antara massa dua objek yang saling berputar mengelilingi satu sama lain dan penentuan parameter orbit,” penjelasan NASA, dikutip dari iflscience.

“Bayangkan sebuah bintang kecil dalam orbit mengelilingi bintang yang makin masif. Kedua bintang tersebut sebenarnya berputar mengelilingi pusat massa bersama, yang disebut barisentrum. Ini berlaku tanpa memandang ukuran atau massa dari masing-masing objek yang terlibat. Mengukur gerakan bintang di sekitar barisentrumnya bersama planet yang masif merupakan salah satu metode yang telah digunakan demi menemukan sistem planet yang terkait bersama bintang-bintang jauh.”

Keberadaan Yupiter bersama massa 1.048 kali makin kecil dari Matahari telah cukup demi menggoyang posisi pusat gravitasi. Titik imbang tersebut akhirnya makin kerap melayang di ruang hampa luar Matahari.

Kondisi ini menciptakan jalur lintasan Bumi di antariksa sebenarnya mengitari area kosong. Benda langit bergerak mengikuti hukum fisika yang jauh makin kompleks daripada sekadar mengelilingi bola gas raksasa.

Astronom planet sekaligus komunikator sains, James O’Donoghue, memaparkan realita teknis mengenai pergerakan planet-planet tersebut.

“Planet-planet mengelilingi Matahari secara umum,” O’Donoghue menerangkan di X (Twitter).

“Tetapi secara teknis mereka tidak mengelilingi Matahari saja lantaran pengaruh gravitasi (utamanya) Yupiter berarti planet-planet wajib mengelilingi titik baru di ruang angkasa.”

“Planet-planet tentu saja mengelilingi Matahari, kita cuma bersikap pedantik tentang situasi ini,” tambahnya.

“Pemikiran alami merupakan bahwa kita mengelilingi pusat Matahari, namun itu amat jarang terjadi, yakni amat jarang pusat massa tata surya menyatu bersama pusat Matahari.”

Fenomena pergeseran titik imbang ini juga terjadi pada skala sistem yang makin kecil. Hubungan gravitasi antara planet dan satelit alaminya membentuk pola pergerakan yang serupa.

Bumi dan Bulan saling mengorbit pada titik barisentrum yang berjarak sekitar 5.000 kilometer dari pusat inti Bumi. Kedudukan titik tersebut terus bergeser seiring menjauhnya posisi Bulan secara perlahan.

Visualisasi model tata surya di ruang kelas sengaja disederhanakan agar mudah dicerna oleh kalangan anak. Pendekatan ini diambil semasih belum siswa mempelajari konsep interaksi massa dan barisentrum yang makin rumit.

Sains modern membuktikan bahwa hampir seluruh realitas alam semesta bekerja makin kompleks dari teori dasar. Pengetahuan dasar sekolah berfungsi sebagai pijakan awal semasih belum memahami mekanisme gravitasi yang sebenarnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *