MediaMerdeka.com – Iran menawarkan proposal penghentian konflik selama tujuh hari kepada Amerika Serikat demi mengakhiri perselisihan militer sekaligus membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Tawaran diplomatik ini menjadi angin segar di tengah eskalasi pertempuran kawasan yang telah melumpuhkan rute energi global.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres langsung merespons langkah tersebut saat bertatap muka bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat (25/9). Guterres menegaskan bahwa negosiasi terbuka merupakan satu-satunya jalan keluar demi menyetop pertumpahan darah di Timur Tengah.
Inisiatif diplomasi ini menjadi momentum krusial demi menguji komitmen kedua belah pihak dalam meredakan ketegangan. Masa depan stabilitas pasokan minyak dunia kini amat bergantung pada respons pihak pemerintah Amerika Serikat terhadap draf perdamaian tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa dokumen tertulis telah dikirimkan secara resmi kepada pihak Washington. Proses penyampaian draf perjanjian tersebut dilakukan melalui perantara diplomatik Pemerintah Qatar.
Araghchi mengonfirmasi rute perdagangan Selat Hormuz siap dioperasikan kembali secara normal apabila syarat-syarat dalam proposal disetujui.
“Jika kondisi yang diperlukan terpenuhi, maka Selat Hormuz akan dibuka dalam waktu tujuh hari,” tegas Araghchi.
Hingga pada saat ini, pihak pemerintah Amerika Serikat masih belum menyerahkan jawaban resmi atau tanggapan terbuka atas tawaran dari Tehran tersebut. PBB sendiri terus melobi seluruh pihak agar bersedia menahan diri dan kembali ke meja perundingan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menaruh perhatian besar pada jaminan keselamatan rute maritim vital di kawasan tersebut. PBB menilai pemulihan arus lalu lintas laut wajib berlandaskan pada aturan hukum internasional yang berlaku.
“Sekjen PBB menekankan kebutuhan mendesak demi menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui dialog dan perundingan, bersama menghormati sepenuhnya hukum internasional, termasuk hak dan kebebasan navigasi internasional di dalam dan sekitar Selat Hormuz,” bunyi pernyataan resmi PBB.
Guterres menyuarakan kesiapan lembaganya demi mengawal seluruh proses perundingan sampai mencapai kesepakatan final. PBB berkomitmen menyediakan ruang mediasi demi tercapainya perdamaian yang permanen di kawasan.
Konflik bersenjata ini bermula dari konfrontasi militer skala besar yang diluncurkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu. Otoritas Iran menginformasikan serangan udara dan darat tersebut telah menelan ribuan pihak korban jiwa dari pihak sipil maupun militer.
Sebagai tindakan balasan, militer Iran membalas bersama meluncurkan gelombang serangan rudal serta drone ke berbagai titik strategis kawasan. Iran juga mengambil langkah drastis bersama memblokir akses pelayaran di Selat Hormuz yang memicu krisis energi dunia.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

