MediaMerdeka.com – Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Henry Najoan menyebutkan wacana pembatasan kadar nikotin dan TAR tidak cuma berdampak pada produsen rokok, namun juga dapat berimbas kepada tenaga kerja dan petani tembakau di dalam negeri.
Menurutnya, industri kretek amat bergantung pada bahan baku tembakau dan cengkih domestik. Karakteristik tembakau Indonesia disebut memiliki kandungan nikotin dan TAR yang tergolong tinggi.
“Kalau ada rencana pembatasan kandungan nikotin dan TAR di industri kretek, 95 persen bahan baku kami tembakau dan cengkih dalam negeri. Petani kita masih belum mampu merekayasa tembakau yang rendah nikotin dan TAR, ketersediaan di petani seluruhnya masih tinggi,” ujarnya di Jakarta, bagaikan dikutip Kamis (1/10/2026).
Henry menyebutkan apabila pembatasan kadar nikotin dan TAR diterapkan, penyerapan hasil panen petani lokal berpotensi ikut terdampak.
Pasalnya, pabrikan dapat menyikapi kondisi ketika bahan baku tembakau lokal tidak memenuhi ambang batas yang ditetapkan. Dalam kondisi tersebut, pembelian bahan baku berpotensi dialihkan ke pasar impor.
Dampak kebijakan tersebut juga dinilai dapat merembet ke sektor ketenagakerjaan, terutama industri SKT yang merupakan salah satu sektor padat karya.
“Kami juga punya produk spesifik SKT yang menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja langsung di pabrik. Kalau aturan ini benar diterapkan, dampaknya luar biasa, kehilangan tenaga kerja dan menciptakan kemiskinan baru,” tegas Henry.
Henry mengimbuhkan, kondisi industri rokok legal pada saat ini juga menyikapi tekanan akibat melemahnya daya beli dan maraknya peredaran rokok ilegal selama tiga tahun terakhir.
Menurutnya, munculnya wacana regulasi yang makin restriktif dapat menambah ketidaktentuan untuk keberlangsungan usaha pabrikan rokok legal.
Perlu Roadmap Regulasi
Ekonom Senior sekaligus Policy and Program Director di Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menyebutkan regulasi pihak pemerintah sewajibnya menyerahkan perlindungan, termakin IHT merupakan sektor padat karya yang menopang kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.
“Saya kira pihak pemerintah memang ingin menurunkan prevalensi merokok lantaran alasan kesehatan. Tapi yang dibutuhkan merupakan arah kebijakan yang jelas,” imbuhnya.
Menurut Piter, IHT memiliki peran dalam perekonomian dari hulu hingga hilir. Industri ini menciptakan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja di sepanjang rantai pasok.
Ia juga menilai pengolahan daun tembakau menjadi produk rokok merupakan salah satu bentuk hilirisasi.
“Yang ketiga, industri ini berkontribusi terhadap penerimaan negara,” kata Piter.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

