MediaMerdeka.com – Hujan lebat tak henti yang menerjang wilayah timur Jepang sejak Kamis hingga Jumat dini hari langsung merenggut tiga pihak korban jiwa. Bencana hidrometeorologi parah ini memaksa Badan Meteorologi Jepang menetapkan status bahaya tertinggi Level 5 demi area Prefektur Chiba.
Genangan air tinggi membendung seluruh jaringan jalan raya utama dan melumpuhkan aktivitas ribuan penduduk sipil. Pemerintah Kota Chiba bersama Ichikawa langsung menerbitkan imbauan darurat agar masyarakat sekitar dalam waktu dekat menyelamatkan diri ke tempat aman.
Ancaman tanah longsor berskala besar kini membayangi kawasan pemukiman padat di Chiba maupun Ichihara. Penumpukan massa udara panas berkelembapan tinggi yang menghantam udara dingin di atmosfer atas menjadi pemicu utama kekacauan cuaca ini.
Presipitasi ekstrem diproyeksikan masih terus mengguyur wilayah Chiba dan sekitarnya sepanjang hari. Langkah mitigasi darurat terus dikerahkan guna mengantisipasi kenaikan volume air yang semakin tidak terkendali.
Otoritas Penanggulangan Kebakaran dan Bencana mencatat instruksi evakuasi mendesak telah menyasar makin dari 400.000 jiwa di Chiba dan Ibaraki. Sementara itu, ancaman banjir di wilayah Saitama dilaporkan mengawali menyurut berakibat status siaga setempat resmi dicabut.
Mengapa Badai Kali Ini Sangat Mematikan Bagi Warga?
Kantor Kabinet Jepang mendirikan sedikitnya 200 titik pengungsian resmi yang tersebar di empat prefektur terdampak. Kehadiran posko darurat ini menjadi tumpuan masyarakat sekitar yang kehilangan akses jalan serta sarana transportasi umum.
Petugas penyelamat menemukan seorang pria tak bernyawa di tengah kepungan banjir jalanan kawasan Ichikawa. Insiden mematikan lain menimpa wanita berumur 66 tahun yang terjebak di dalam kabin mobilnya di Kota Sakura.
Polisi setempat juga mengonfirmasi kematian pria ketiga yang ditemukan tidak sadarkan diri di tengah genangan air Yachiyo. Tiga nyawa melayang dalam rentang waktu berdekatan akibat terjebak tingginya luapan air.
Puluhan kendaraan bermotor mOGOK dan terjebak di tengah kepungan air di berbagai sudut jalan Prefektur Chiba. Tim pemadam kebakaran bekerja ekstra keras merespons panggilan darurat dari pengemudi yang terisolasi di dalam kendaraan.
Semburan air deras muncul dari lubang-lubang saluran pembuangan kota Chiba akibat tak sanggup menampung debit air. Para pekerja malam terpaksa menerjang genangan air setinggi lutut demi dapat sampai ke rumah.
Bagaimana Kondisi Warga yang Terjebak di Lokasi Bencana?
Gedung pihak pemerintah prefektur langsung dialihfungsikan menjadi aula penampungan darurat untuk ratusan masyarakat sekitar yang terlantar. Fasilitas publik ini disesaki masyarakat sekitar yang tidak dapat melanjutkan perjalanan pulang.
Seorang komuter wanita berusia 34 tahun memuntukkan pengalamannya saat terisolasi di tengah perjalanannya dari arah Tokyo.
“Kaki saya basah kuyup hingga sebatas lutut. Minimarket dan pos pihak kepolisian merasakan pemadaman listrik. Saya merasa tidak aman,” kata wanita tersebut.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

