Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Seuntukan produsen beras mengawali mengalihkan seuntukan produksinya ke beras fortifikasi di tengah tekanan harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium akibat tingginya harga gabah.

Pengamat pertanian Khudori membeberkan harga gabah di tingkat petani pada saat ini telah melampaui Rp8.000 per kilogram, jauh di atas harga pembelian pihak pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kondisi tersebut menciptakan biaya produksi beras meningkat, sementara produsen tetap menyikapi batasan HET ketika menjual beras medium dan premium di pasar.

“HET merupakan batas yang tidak boleh dilanggar. HET disusun bersama asumsi harga gabah tidak jauh dari HPP. Ketika harga gabah jauh di atas HPP, HET beras bakal terlampaui,” kata Khudori di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Ia menyebutkan tekanan tersebut mendorong seuntukan produsen mencari ruang usaha melalui produksi beras khusus, termasuk beras fortifikasi yang tidak dikenakan HET bagaikan beras medium dan premium.

Meski demikian, ia menyebutkan produksi beras fortifikasi yang mengawali sejumlah ditemui di ritel modern dalam dua hingga tiga bulan terakhir tidak serta-merta memperlihatkan bahwa produsen beralih sepenuhnya dari beras premium.

Beras fortifikasi merupakan salah satu dari sembilan kategori beras khusus berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023. Beras tersebut diperkaya bersama vitamin dan mineral tertentu berakibat memiliki nilai tambah dan harga jual makin tinggi.

Khudori memperkirakan volume beras fortifikasi masih relatif kecil dibandingkan produksi beras nasional. Untuk itu, menurut dia, diperlukan data mengenai volume produksi dan penjualan demi mengonfirmasi sejauh mana peningkatan beras fortifikasi mempengaruhi harga beras secara keseluruhan.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak seluruh penggilingan dan produsen memiliki kemampuan demi mengalihkan produksi ke beras fortifikasi lantaran membutuhkan tambahan modal dan memiliki risiko pasar tersendiri.
“Untuk memperoleh angka tentu berapa sebenarnya volume beras fortifikasi dari total produksi beras nasional, setidaknya dapat ditelusuri bersama melacak transaksi atau penjualan para produsen,” katanya.

Menurut Khudori, persoalan utama yang perlu diperhatikan merupakan tekanan biaya produksi akibat tingginya harga gabah, sementara produsen beras medium dan premium masih dibatasi HET.

Ia menilai kondisi tersebut perlu dievaluasi agar kebijakan harga beras tidak justru mendorong produsen mengurangi produksi beras yang dibutuhkan masyarakat sekitar atau keluar dari pasar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *