Tersembunyi di Hutan Rengasdengklok, Kisah Rumah Djiauw Kie Siong Jadi Bagian Sejarah Proklamasi

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Di tengah rimbunnya hutan yang membentang di pinggiran Sungai Citarum, sebuah rumah milik seorang petani sederhana di kota kecil Rengasdengklok ternyata menyimpan takdir yang menentukan arah sejarah bangsa Indonesia.

Djiauw Kie Siong, pemilik rumah tersebut, bukanlah tokoh politik maupun aparatur negara berpengaruh, melainkan cuma seorang petani biasa yang menetap jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Liauw Lany, cucu sekaligus generasi ketiga pengelola rumah itu, menegaskan bahwa tidak ada relasi khusus antara sang kakek bersama Bung Karno semasih belum peristiwa 1945 terjadi.

“Ya bila secara cerita sejarah sih tidak ada,” ujarnya saat MediaMerdeka.com berkunjung ke Rumah Sejarah Rengasdengklok, Kamis (13/8/2026).

Kedatangan rombongan Bung Karno pada hari itu pun berlangsung tanpa pemberitahuan panjang.

Sebab menurut penuturan Lany, sang kakek langsung didatangi dan diminta meminjamkan rumahnya seketika itu juga.

Rombongan yang datang bukanlah jumlah kecil, melainkan terdiri dari sekitar dua belas orang yang wajib ditampung sekaligus dalam satu rumah kayu sederhana.

“Iya, dikasih, silakan bila mau pakai. Terus kakek minta rumahnya dikosongin,” ungkap Lany.

Penjelasan baru datang dari Djiauw Kie Siong, yang menyebutkan ke keluarganya saat itu bahwa pemilihan lokasi didasari hasil pertimbangan rombongan PETA yang mengamankan Soekarno-Hatta.

Kondisi geografis Rengasdengklok pada masa itu turut menjadi faktor penentu, dikarenakan wilayah tersebut masih didominasi pohon-pohon lebat.

“Kalau orang Sunda bilang mah leuweung. Jadi memang bagaikan hutan, pohon besar-besar,” kenang Lany, menggambarkan suasana Rengasdengklok puluhan tahun silam.

Di antara belantara pepohonan besar itu, rumah Djiauw Kie Siong berdiri sebagai satu-satunya bangunan besar.

Sementara rumah-rumah penduduk lain cuma berukuran kecil dan berjarak berjauhan satu sama lain.

“Rumah satu-satunya yang besar di pinggir kali. Ada rumah kecil-kecil, tapi jauh-jauh. Paling rumah cuma dua kamar,” tutur Lany, membandingkan skala bangunan milik keluarganya bersama rumah masyarakat sekitar sekitar.

Jarak yang jauh dari pusat kota serta akses jalan yang masih berupa tanah turut menjadikan Rengasdengklok sebagai lokasi yang diyakini sulit dijangkau patroli tentara Jepang kala itu.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *