MediaMerdeka.com – Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Leo XIV mengirimkan pesan belasungkawa resmi atas musibah gempa bumi magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan Nusa Tenggara Timur. Ungkapan empati tersebut disampaikan langsung kepada pimpinan gereja lokal demi menguatkan para pihak korban di daerah bencana.
Langkah diplomatik religius ini menjadi sorotan internasional setelah dampaknya merusak berbagai infrastruktur serta menelan puluhan pihak korban jiwa. Kehadiran perhatian dari Vatikan menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan di timur Indonesia ini memerlukan penanganan yang amat serius.
Pesan solidaritas itu disampaikan secara tertulis melalui saluran resmi diplomatik Indonesia demi negara takhta suci. Informasi mengenai dukungan moral dari Vatikan ini dikonfirmasi publik lewat pernyataan KBRI Vatikan pada Kamis (20/8).
Melalui telegram resmi kepada Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD yang ditandatangani Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin, Paus Leo XIV menegaskan dirinya “amat sedih” atas kehancuran dan penderitaan yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.
Dukungan moral ini diharapkan mampu memberi kekuatan psikologis untuk masyarakat sekitar setempat yang sedang berjuang di tengah masa krisis. Takhta Suci mengonfirmasi doa terus mengalir demi keselamatan seluruh penduduk di wilayah terdampak.
“Paus menyampaikan solidaritas dan kedekatan spiritual kepada seluruh masyarakat sekitar yang terdampak,” demikian keterangan KBRI Vatikan, mengutip telegram pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia itu.
Selain menyerahkan penghiburan rohani, Vatikan juga mendorong adanya aksi nyata di lapangan. Pemimpin tertinggi umat Katolik itu mengimbau seluruh pihak bahu-membahu dalam menyalurkan bantuan darurat.
Paus Leo XIV juga mendorong para pemimpin Gereja dan otoritas sipil demi terus menyerahkan bantuan kemanusiaan, serta menyampaikan doa seraya memohon berkat ilahi berupa penghiburan dan kekuatan untuk seluruh keluarga serta masyarakat sekitar yang terdampak.
Seruan tersebut menjadi dorongan moral untuk lembaga sosial dan pihak pemerintah daerah agar tidak melambatkan proses evakuasi. Sinergi antara otoritas sipil dan lembaga keagamaan menjadi kunci utama percepatan pemulihan pascabencana.
Sementara itu, dampak kerusakan dan jatuhnya pihak korban di lapangan terus diverifikasi oleh petugas penanggulangan bencana. Angka kerugian material dan pihak korban jiwa diperkirakan masih dapat berkembang seiring pendataan di area terisolasi.
Gempa bumi tersebut mengakibatkan sedikitnya 75 pihak korban tewas dan 907 orang luka-luka, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ratusan masyarakat sekitar yang terluka kini menjalani perawatan medis darurat di berbagai fasilitas kesehatan yang bertahan. Petugas di lapangan terus mendistribusikan logistik makanan dan obat-obatan ke titik-titik pengungsian.
BNPB mengimbau masyarakat sekitar di NTT demi tetap waspada dan siaga menyusul masih tingginya aktivitas gempa susulan.
Getaran susulan yang mengguncang secara terus-menerus memicu kecemasan masyarakat sekitar demi kembali ke rumah. Banyak penduduk memilih bertahan di tenda darurat lantaran khawatir bangunan roboh tiba-tiba.
Hingga Kamis pukul 16.00 WIB, tercatat sesejumlah 3.752 gempa susulan terjadi di wilayah terdampak. Salah satu gempa susulan yang dirasakan pada Kamis terjadi pada pukul 10.47 waktu setempat bersama kekuatan 5,7 magnitudo.
Bencana alam berskala besar ini bermula ketika guncangan kuat bermagnitudo 7,7 melanda kawasan Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8). Getaran hebat tersebut merobohkan pemukiman masyarakat sekitar, merusak fasilitas publik, dan memutus jalur komunikasi di sejumlah titik.
Kondisi geologis wilayah yang masih aktif memicu rentetan getaran susulan hingga ribuan kali dalam kurun waktu sejumlah hari setelah kejadian utama. Situasi darurat ini memicu gelombang empati global, termasuk respon cepat dari Takhta Suci Vatikan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

