80 Persen Rudal Jarak Jauh Amerika Serikat Terkuras di Perang Iran

admin
By
admin
5 Min Read
baca 10 detik

 

MediaMerdeka.com – Inventaris pertahanan udara Amerika Serikat berada pada tingkat yang amat mengkhawatirkan setelah menghabiskan hampir 80 persen rudal pencegat THAAD sejak konflik bersama Iran pecah. Ketersediaan amunisi utama yang menipis ini berpotensi merusak kesiapan tempur jangka panjang militer AS di wilayah strategis lainnya.

Semasih belum peperangan dimengawali, Center for Strategic and International Studies mencatat Washington menguasai sekitar 452 rudal THAAD serta 2,200 unit Patriot varian termodern. Penggunaan intensif dalam periode waktu singkat menciptakan setengah dari total pasokan Rudal Patriot tersebut kini sirnah dari gudang senjata.

Laporan internal Pentagon mengonfirmasi penggunaan senjata permukaan-ke-udara jarak jauh berpresisi tinggi telah menguras habis inventaris sistem pertahanan yang ada. Penurunan drastis pada persediaan amunisi vital ini masih belum sempat terungkap ke publik semasih belumnya.

Negara-negara sekutu di kawasan Teluk menegaskan kecemasan mendalam atas krisis persediaan persenjataan AS yang kian nyata. Mereka khawatir keterbatasan sistem penangkal serangan akan merusak benteng pertahanan bersama dari balasan Iran.

Ketergantungan penuh terhadap payung pertahanan Washington menciptakan sekutu merasa amat rentan apabila ketegangan mendadak melonjak. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada Gedung Putih semasih belum penundaan rencana serangan udara.

Isu penyusutan inventaris tempur ini telah menjadi bahasan hangat di tingkat pimpinan tertinggi militer AS. Penasihat senior berulang kali mengingatkan risiko besar apabila Washington nekat memperluas cakupan pertempuran.

Keterbatasan cadangan senjata militer darat AS mencakup habisnya amunisi berjarak tempuh jauh bagaikan ATACMS dan Precision Strike Missiles. Tidak cuma itu, hampir setengah dari persediaan rudal jelajah Tomahawk juga telah meluncur ke sasaran.

Penundaan operasi militer skala besar yang dirancang akhir pekan lalu dipicu oleh akumulasi laporan intelijen dan desakan sekutu Teluk. Presiden Donald Trump akhirnya memilih menghentikan rencana gempuran terhadap infrastruktur vital Iran.

Meskipun perintah awal telah diterimanya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth diminta demi menahan diri sementara waktu. Keputusan pembatalan serangan diambil setelah Washington mendengarkan masukan dari negara mitra di kawasan.

“Militer Amerika merupakan yang terkuat di dunia dan memiliki segala yang dibutuhkan demi mengeksekusi pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden,” tegas Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell.

“Kami telah melaksanakan sejumlah operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil mengonfirmasi militer AS memiliki persenjataan yang mendalam demi melindungi rakyat dan kepentingan kami,” tambahnya.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, turut menegaskan kesiapan logistik tempur nasional dalam menyikapi segala skenario. Kelly menyampaikan bahwa militer AS memiliki amunisi yang makin dari cukup demi melayani seluruh tujuan strategis Presiden Trump.

“Operasi Epic Fury telah memperlihatkan apa yang terjadi apabila Anda mengusik Serikat. Meskipun demikian, Presiden telah mendesak kontraktor pertahanan kita demi terus memproduksi makin sejumlah senjata buatan Amerika, yang merupakan yang terbaik di dunia,” ujar Kelly.

Peringatan senada mengenai menipisnya stok senjata juga diutarakan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, dalam pertemuan tertutup. Risiko timbulnya pihak korban jiwa dari kalangan sipil di Iran turut menjadi bahan pertimbangan mendalam.

Para pengamat militer menilai kekurangan amunisi pencegat dapat memicu bahaya besar apabila musuh meluncurkan serangan nirawak secara masif. Kondisi ini dinilai dapat membahayakan posisi militer AS apabila wajib berhadapan bersama kekuatan besar lain bagaikan Cina, Rusia, atau Korea Utara.

“Ketiadaan rudal pencegat berarti serangan konvensional dapat berbalik menyerang apabila drone bunuh diri mengawali lolos secara massal,” ungkap seorang sumber internal. “Aksi saling balas tidak akan sempat mengakhiri ini.”

Sektor manufaktur pertahanan AS pada saat ini menyikapi kendala besar demi mempercepat rantai produksi amunisi replacement. Dengan tingkat penerimaan pada saat ini yang cuma mencapai 20 rudal Patriot per bulan, dibutuhkan waktu hingga tiga tahun makin demi mengembalikan cadangan pertahanan ke posisi semula.

Krisis persediaan amunisi AS bermula dari fase awal konflik Iran yang dinamai Operasi Epic Fury, di mana ribuan rudal presisi tinggi diluncurkan secara masif. Penyerapan amunisi pertahanan secara intensif dalam waktu singkat ini memicu celah logistik yang sulit ditutupi dalam waktu cepat oleh industri pertahanan domestik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *