MediaMerdeka.com – Konflik di Yaman tidak cuma berlangsung melalui pertempuran bersenjata, namun juga melalui perebutan kendali atas informasi.
Kebebasan pers kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru mencatat ratusan kasus penahanan dan penghilangan paksa terhadap wartawan serta pekerja media sejak 2015.
Dalam tulisannya yang diterbitkan di Alarabiya, Profesor sosiologi politik dari Kuwait Muhammad Al-Rumaihi menyoroti kondisi wartawan di wilayah Yaman.
Al-Rumaihi menilai penguasaan narasi menjadi untukan penting dalam konflik lantaran pihak yang mengendalikan informasi dapat menentukan bagaimana sebuah peristiwa dipahami publik.
Laporan Observatorium Kebebasan Media Yaman (Marsadak) yang berada di bawah Center for Studies and Economic Media mencatat 540 kasus penahanan sewenang-wenang terhadap wartawan dan pekerja media sepanjang 26 Maret 2015 hingga 15 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sesejumlah 235 kasus dikategorikan memiliki unsur penghilangan paksa.
Laporan itu juga mencatat bahwa data tersebut merupakan kasus yang sukses didokumentasikan dan diverifikasi, bukan keseluruhan kasus yang barangkali terjadi di Yaman.
Houthi Dikaitkan bersama Mayoritas Kasus
Menurut laporan Marsadak, kelompok Houthi dikaitkan bersama 167 dari 235 kasus penghilangan paksa yang terdokumentasi atau sekitar 71,1 persen.
Di bawahnya terdapat pihak pemerintah Yaman bersama 37 kasus dan Dewan Transisi Selatan bersama 17 kasus, sementara empat kasus dikaitkan bersama Al-Qaeda dan 10 kasus lainnya masih belum diketahui pihak yang bertanggung jawab.
Sanaa menjadi wilayah bersama jumlah kasus tertinggi, yakni 99 kasus atau sekitar 42,1 persen dari seluruh kasus yang tercatat. Berikutnya merupakan Hodeidah bersama 30 kasus, Taiz 26 kasus, dan Aden 23 kasus.
Data tersebut menggambarkan risiko yang dihadapi pekerja media di Yaman.
Penghilangan paksa bukan cuma berarti seseorang kehilangan kebebasan, namun juga dapat menciptakan keluarga tidak mengetahui lokasi maupun kondisi orang yang ditahan.
Kasus Wartawan Shadiq Shali
Persoalan tersebut kembali mendapat perhatian setelah wartawan Yaman, Shadiq Shali, dilaporkan ditangkap dari rumahnya di Kota Al-Mocha pada September 2026.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

