Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Perdamaian Iran – AS Terancam Batal Total

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang terus membara di Selat Hormuz langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Konflik yang memasuki hari keempat ini mengguncang pasar energi lantaran Iran bersikeras mempertahankan kendali atas jalur maritim kritis tersebut.

Minyak mentah Brent naik 0,9 persen ke level 72,20 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS menanjak 1,3 persen menjadi 70,09 dolar per barel. Padahal pada Jumat lalu, harga komoditas ini sempat menyentuh titik terendah sejak perang meletus.

Semasih belum eskalasi terbaru terjadi, pasar sempat bernapas lega berkat harapan kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari. Pemulihan lalu lintas kapal tanker sempat terlihat setelah penandatanganan perjanjian perdamaian pada 17 Juni lalu.

Laju pemulihan tersebut mendadak lumpuh setelah Iran menyerang sebuah kapal komersial di selat tersebut pada hari Kamis. PBB bahkan terpaksa menunda rencana evakuasi untuk para pelaut dan kapal yang terjebak di zona bahaya.

Saling balas serangan rudal dan drone antara kedua militer menciptakan perairan strategis ini menjadi amat berisiko. Sejumlah operator kapal komersial kini terpaksa mengalihkan rute pelayaran mereka demi mendekati wilayah pesisir Oman.

Sentimen pasar kini menyadari bahwa penurunan harga energi tidak cuma bergantung pada pemulihan jalur perdagangan maritim saja. Infrastruktur energi yang rusak parah membutuhkan waktu berbulan-bulan agar kapal tanker dapat melintas bersama normal.

Para pengamat ekonomi bahkan memperingatkan risiko bahwa harga minyak kebarangkalian tidak akan kembali ke level semasih belum perang pada tahun 2026. Meski demikian, harga pada saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi empat tahun terakhir yang sempat menyentuh $126 per barel pada April lalu.

Penurunan harga dari puncaknya tersebut setidaknya sedikit meringankan beban pengeluaran bahan bakar para konsumen di Amerika Serikat. Berdasarkan data AAA, rata-rata harga bensin reguler domestik turun hampir 13 persen dari bulan lalu menjadi $3.87 per galon.

Di sisi lain, pertempuran akhir pekan ini menjadi ujian berat untuk komitmen awal perdamaian transisi kedua negara. Gelombang serangan pesawat tanpa awak dan rudal dari Teheran dilaporkan tidak berhasil mengenai sasaran utama mereka.

Pemerintah Iran berdalih serangan tersebut merupakan balasan setelah pangkalan militer mereka di negara Teluk dihantam oleh militer AS. Kendati situasi di lapangan memanas, jalur diplomasi dilaporkan masih belum sepenuhnya tertutup oleh kedua belah pihak.

Seorang aparatur negara senior dari pihak pemerintahan Trump membeberkan bahwa pembicaraan lanjutan masih berada “pada jalurnya demi sejumlah hari mendatang.”

Namun, ketidaktentuan di jalur perairan utama ini tetap menciptakan para tersangka usaha pelayaran komersial menyikapi kebingungan ekstrem. Ditambah lagi, Iran kini mengajukan syarat baru yang menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon sebagai untukan dari kesepakatan akhir bersama AS.

Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi logistik global yang mengalirkan seperlima dari total pasokan minyak mentah di seluruh dunia. Konflik bersenjata yang melibatkan poros AS, Iran, serta ketegangan regional yang melibatkan kelompok Hezbollah di Lebanon terus mempersulit stabilitas pasokan energi global. Upaya gencatan senjata teknis selama 60 hari kini berada di ujung tanduk akibat eskalasi militer yang tidak kunjung mereda di perairan Teluk.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *