MediaMerdeka.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kini berubah menjadi krisis mematikan.
World Health Organization, WHO menyebut makin dari 1.300 kematian terjadi akibat suhu tinggi sejak 21 Juni 2026.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahaya besar dari fenomena ini.
“Stres panas kerap disebut sebagai pembunuh diam-diam, dan sejumlah rumah serta fasilitas di Eropa tidak dirancang demi suhu ekstrem bagaikan ini,” ujarnya dilansir dari BBC.
Rekor suhu kembali pecah di berbagai negara.
Di Jerman, suhu mencapai 41,7°C—tertinggi sepanjang sejarah, sementara Polandia mencatat 40,5°C dan Republik Ceko mencapai 41,1°C.
Dampak teramat parah terjadi di Prancis, yang mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan dalam sejumlah hari.
Seuntukan besar pihak korban merupakan lansia, bersama lonjakan 40% kematian yang terjadi di rumah.
Jutaan masyarakat sekitar kini hidup di bawah tekanan suhu ekstrem.
Sekolah ditutup, jaringan listrik terganggu, dan layanan kesehatan kewalahan menangani lonjakan pasien.
Fenomena ini dipicu oleh efek heat dome yang menjebak udara panas di suatu wilayah.
Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan iklim, yang menciptakan gelombang panas ekstrem kini semakin kerap terjadi.
“Eropa merupakan benua yang memanas teramat cepat di dunia, dua kali lipat dari rata-rata global,” tegas Tedros.
Berbagai langkah darurat pun diterapkan. Festival musik di Belanda dibatalkan, sementara di Paris konsumsi alkohol di ruang publik dilarang dan sejumlah acara besar ditunda.
Selain itu, otoritas Prancis menginformasikan sedikitnya 74 orang tewas tenggelam sejak gelombang panas dimengawali.
Banyak pihak korban mencari pendinginan di sungai atau danau tanpa pengawasan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

