Investor Asing Mulai Ragu, Purbaya Mulai Berburu Dana ke Pasar Obligasi China

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pemerintah Indonesia mengawali memasarkan obligasi berdenominasi yuan atau panda bond di pasar obligasi domestik China di tengah tekanan berat terhadap perekonomian nasional. Langkah ini dinilai mencerminkan upaya pihak pemerintah mencari sumber pendanaan baru ketika nilai tukar rupiah terus tertekan dan sentimen investor terhadap Indonesia melemah.

Dalam dokumen penawaran obligasi, pihak pemerintah menawarkan panda bond bertenor tiga tahun dan lima tahun bersama target penerbitan awal hingga 7 miliar yuan. Indonesia juga telah memperoleh persetujuan demi menerbitkan obligasi panda hingga 30 miliar yuan di pasar obligasi antarbank China dalam dua tahun ke depan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan minat investor terhadap obligasi yang diterbitkan Indonesia di pasar China cukup positif. “Respons investor terhadap instrumen tersebut sejauh ini berjalan baik,” kata Purbaya menukil TheEdge Singapura, Selasa (21/7/2026).

Sepanjang pada tahun ini, pihak pemerintah telah menggalang dana sekitar US$7 miliar melalui penerbitan surat utang dalam berbagai mata uang selain dolar Amerika Serikat, termasuk euro, yen Jepang, dan yuan lepas pantai. Nilai tersebut menjadi rekor penerbitan utang non-dolar terbesar yang sempat dilakukan Indonesia.

Namun, langkah memperluas sumber pembiayaan itu dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang. Rupiah terus mencatat pelemahan hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada tahun ini, sementara pasar saham Indonesia menjadi salah satu yang berkinerja teramat buruk di dunia.

Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi pihak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin berorientasi pada peran negara. Sentimen negatif juga dipicu oleh defisit transaksi berjalan yang melebar serta tingginya harga energi global.

Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga demi menahan pelemahan rupiah. Meski demikian, tekanan terhadap perekonomian masih membayangi akibat kenaikan biaya impor, besarnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM), serta target pertumbuhan ekonomi pihak pemerintah yang dinilai ambisius.

Tekanan terhadap kredibilitas fiskal Indonesia juga tercermin dari keputusan Moody’s Ratings dan Fitch Ratings yang semasih belumnya menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat kreditnya. Kedua lembaga pemeringkat tersebut menyoroti kekhawatiran terhadap tata kelola pihak pemerintahan di bawah Presiden Prabowo. Sebaliknya, lembaga pemeringkat asal China, China Lianhe Credit Rating Co, tetap menyerahkan peringkat AAA kepada Indonesia.

Dana hasil penerbitan panda bond nantinya akan dikirim ke luar negeri demi kebutuhan pembiayaan umum pihak pemerintah dan dapat dikonversi ke mata uang lain sesuai kebutuhan. Proses penentuan harga (bookbuilding) dijadwalkan berlangsung pada Kamis.

Hingga akhir Maret 2026, total utang pihak pemerintah Indonesia telah mencapai Rp9.920,4 triliun, bersama porsi terbesar berasal dari surat berharga negara yang diterbitkan di pasar domestik.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *