MediaMerdeka.com – Blokade maritim secara mendadak dihantamkan kelompok Houthi Yaman kepada Arab Saudi guna memutus jalur distribusi minyak darurat di Laut Merah. Ancaman langsung ini menyasar Selat Bab el-Mandeb yang menjadi urat nadi utama pengiriman energi ke pasar global.
Langkah nekat milisi pendukung Iran tersebut berpotensi mengunci jutaan barel mentah yang semasih belumnya dialihkan Riyadh demi menghindari pertempuran di Selat Hormuz. Jalur alternatif Arab Saudi yang selama ini menjadi penyeimbang krisis energi dunia kini berada di ambang kelumpuhan total.
Eskalasi militer ini melipatgandakan risiko kehancuran rantai pasok minyak global di tengah gempuran perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran. Dibahas CNBC Internasional, Selasa (21/7/2026), pasar keuangan dunia kini bersiap menyikapi lonjakan harga energi yang meluas akibat terancamnya dua selat strategis sekaligus.
Melalui pengumuman di media pihak pemerintah, milisi Yaman menuding Riyadh telah menetapkan pengepungan agresif yang merugikan posisi mereka secara langsung.
Ketegangan antarkelompok melonjak tajam pekan lalu setelah menuduh pihak Arab Saudi memborbardir Bandara Internasional Sanaa.
Sebagai bentuk penyelamatan, Arab Saudi mengalirkan jutaan barel minyak per hari lewat pipa darat menuju terminal ekspor Laut Merah. Pasokan darurat ini menjadi katup penyelamat vital yang menjaga stabilitas energi global selama perang AS-Iran berkecamuk.
Penutupan Selat Bab el-Mandeb ditentukan mengunci aliran ekspor tersebut dan memperparah kelangkaan akibat gempuran kapal tangker di Hormuz. Kendati demikian, respons harga minyak mentah internasional terpantau masih belum bergolak ekstrem menanggapi gertakan terbaru Houthi.
Minyak mentah Brent sempat melonjak mendekati 4 persen hingga menembus angka 90 Dolar AS per barel di perdagangan semalam. Lonjakan harga tersebut terpicu kematian sedikitnya tiga prajurit militer AS dalam kontak senjata jarak dekat melawan pasukan Iran.
Tekanan harga minyak perlahan mereda setelah pihak pemerintah Tehran melayangkan sinyal masih membuka pintu dialog bersama Washington. Namun, stabilitas tersebut amat rapuh mengingat pertempuran di kawasan strategis Timur Tengah terus memanas.
Konflik AS dan Iran semakin tidak terkendali seiring hancurnya kesepakatan sementara bertanggal 17 Juni yang semula ditujukan membendung krisis Hormuz. Tehran berulang kali menggempur kapal-kapal tanker hingga menewaskan sedikitnya dua pelaut dan melukai belasan pekerja kapal sepanjang pada bulan ini.
Pemerintah AS membalas serangan tangker tersebut bersama melancarkan pemboman ke wilayah Iran selama sembilan hari berturut-turut serta memberlakukan kembali blokade laut. Sebagai bentuk retaliasi, Tehran meluncurkan rudal-rudal balistik ke arah wilayah sekutu Washington di kawasan Teluk.
Lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz merosot drastis akibat sengitnya kontak senjata di wilayah perairan tersebut. Meski demikian, pihak pemerintahan Donald Trump mengklaim selat strategis itu tetap terbuka untuk pelayaran internasional.
Gedung Putih menegaskan jutaan barel minyak tetap dikirimkan setiap hari di bawah pengawalan ketat armada tempur militer AS.
Penyebaran ancaman ke Selat Bab el-Mandeb kini menyisakan sedikit ruang aman untuk jalur pelayaran kapal energi dunia. Industri minyak global kini berada di titik nadir menunggu kelanjutan ketegangan militer di perairan Timur Tengah.
Kondisi keamanan di kawasan diprediksi kian membara apabila upaya diplomasi antarnegara yang bertikai merasakan jalan buntu.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

