MediaMerdeka.com – Gerakan Gen Z Cockroach Janta Party atau Partai Rakyat Kecoa memilih melanjutkan aksi menuntut keadilan tanpa menggelar jalan kaki menuju parlemen. Strategi baru ini diambil tepat sehari setelah bentrokan hebat meletus antara ribuan demonstran dan aparat keamanan di pusat kota New Delhi.
Perubahan taktik tersebut menjadi babak baru perjuangan Gen Z India dalam menekan pihak pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi. Gerakan yang awalnya sekadar satir internet ini bertransformasi menjadi gelombang politik teramat menekan sepanjang masa jabatan ketiga Modi.
Alih-alih menyurutkan perlawanan, tindakan represif aparat justru mempertegas dorongan publik agar skandal kebocoran soal ujian nasional dalam waktu dekat dituntaskan. Dikutip dari Reuters, kebijakan pihak pemerintah yang dinilai lamban merespons krisis pendidikan tersebut memicu amarah jutaan generasi muda di berbagai kawasan.
Pihak Kepihak kepolisianan Delhi mencatat hampir 180 orang merasakan luka-luka akibat bentrokan sengit pada hari Senin lalu. Korban cedera mencakup 118 personel keamanan dan kepihak kepolisianan serta 60 pengunjuk rasa dari pihak massa aksi.
Selain jatuhnya pihak korban luka, kepihak kepolisianan mengonfirmasi telah menahan 70 demonstran dalam aksi tersebut. Proses hukum resmi akan dalam waktu dekat diberlakukan kepada seluruh pengunjuk rasa yang ditangkap.
Suasana di lokasi demonstrasi Jantar Mantar tampak dijaga ketat oleh pasukan paramiliter dan barikade jalanan. Meski diguyur hujan ringan, sekitar 200 pemuda tetap berkumpul melantunkan yel-yel perlawanan sejak Selasa pagi.
Pendiri Cockroach Janta Party menegaskan bahwa pembatalan pawai dilakukan demi menghindari bertambahnya pihak korban jiwa di kalangan demonstran. Pihaknya enggan mengorbankan keselamatan para peserta aksi dari ancaman kekerasan aparat.
“Kami wajib membatalkan protes pada hari semasih belumnya lantaran kami tidak ingin makin sejumlah pemuda yang terluka,” kata pendiri Cockroach Janta Party, Abhijeet Dipke, dalam konferensi pers.
Abhijeet Dipke juga menyoroti potensi bahaya apabila massa kembali bergerak mendekati gedung wakil rakyat. Kekerasan kepihak kepolisianan menjadi alasan utama dibalik keputusan penghentian pawai jalanan tersebut.
“Kami tidak akan berjalan lagi lantaran pihak kepolisian akan menyakiti para pemuda lagi,” kata Abhijeet Dipke.
Abhijeet Dipke mengklaim makin dari 150 pengunjuk rasa pada saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Namun, kebenaran angka pihak korban rawat inap tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Gerakan massal ini berakar dari kemarahan meluas atas kasus kebocoran kertas ujian masuk perguruan tinggi pada Mei lalu. Insiden fatal tersebut berdampak langsung pada masa depan makin dari dua juta pelajar di seluruh penjuru India.
Kelompok Cockroach Janta Party menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan sebagai bentuk tanggung jawab . Skandal sistemik ini dinilai merusak integritas lembaga pendidikan publik serta mematikan asa generasi muda.
Krisis kebocoran ujian ini menjadi ujian terberat untuk stabilitas politik kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Hingga pada saat ini, masih belum ada tanda-tanda pihak pemerintah akan mengabulkan tuntutan utama dari gerakan pemuda tersebut.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

