Alasan BI Diproyeksi Pertahankan BI Rate 5,75 Persen di Agustus 2026

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Bank Indonesia diprediksi kuat masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) edisi Agustus 2026.

Jika skenario dasar tersebut direalisasikan, kebijakan demi mempertahankan BI Rate pada angka 5,75 persen ini tentunya akan diikuti oleh ketetapan suku bunga Deposit Facility yang diproyeksikan tetap berada pada angka 4,75 persen, serta suku bunga Lending Facility yang bertahan di level 6,50 persen.

Kestabilan tingkat suku bunga menjadi jangkar penting dalam menakar beban pinjaman riil, bagaikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun ekspansi kredit modal kerja.

Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, menyerahkan pandangannya terkait postur kebijakan moneter pada saat ini. Menurut tinjauan makroekonominya, kondisi yang terbentuk hingga pertengahan kuartal ketiga pada tahun ini masih belum menyerahkan dasar argumen yang cukup meyakinkan untuk otoritas moneter, baik demi mengambil langkah pelonggaran secara prematur, maupun pengetatan makin lanjut.

Josua menyerahkan penekanan bahwa bank sentral sebaiknya menyerahkan jeda waktu agar rentetan kebijakan yang telah dieksekusi semasih belumnya dapat bertransmisi secara optimal ke dalam sistem perbankan dan menggerakkan roda ekonomi riil.

“Keputusan terbaik pada saat ini bukan menaikkan ataupun menurunkan suku bunga, melainkan memberi waktu untuk kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni demi bekerja, sembari BI tetap agresif menjaga rupiah melalui intervensi valas, SRBI, pengelolaan likuiditas, dan instrumen makroprudensial,” ujar dia.

Ada pemetaan situasi ekonomi berlapis yang menciptakan level 5,75 persen dianggap sebagai titik ekuilibrium (keseimbangan) yang teramat akurat pada saat ini. Merujuk pada analisis indikator finansial, setidaknya ada tiga faktor dominan yang saling menyerahkan daya tarik-menarik dalam konstelasi penentuan kebijakan. Dinamika ini menuntut kehati-hatian ekstra dari Bank Indonesia agar setiap keputusan tidak memicu guncangan arus modal.

“Secara sederhana, ada tiga kekuatan yang saling menahan. Inflasi rendah dan moderasi permintaan domestik menepis kenaikan suku bunga; membaiknya data inflasi AS dan rupiah yang kembali dari Rp18.000 menuju kisaran Rp17.800-Rp17.900 juga mengurangi urgensi kenaikan; namun pelebaran defisit transaksi berjalan, penurunan cadangan devisa, ketergantungan pada arus portofolio, serta masih tingginya imbal hasil global menciptakan penurunan suku bunga masih belum aman,” kata dia, kepada MediaMerdeka.com pada Rabu (19/8/2026).

Faktor volatilitas mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat senantiasa menjadi variabel krusial yang diawasi ketat. Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan mencatatkan rata-rata di kisaran Rp18.276 per dolar AS selama periode kuartal ketiga tahun 2026.

Menjelang penutupan kuartal ketiga nanti, pergerakan nilai tukar diperkirakan bertengger pada posisi Rp18.180 per dolar AS, semasih belum akhirnya diharapkan merasakan perbaikan secara gradual dan menutup pada tahun ini di level ekuilibrium baru, yakni sekitar Rp17.906 per dolar AS.

Meskipun pada saat ini Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan suku bunga, bias kebijakan tersebut memiliki peluang demi bergeser menjadi makin akomodatif.

Pelonggaran kebijakan dapat terwujud apabila defisit transaksi berjalan sukses ditekan makin rendah dari ekspektasi awal, diiringi peningkatan cadangan devisa yang persisten, pergeseran minat arus modal asing dari instrumen jangka pendek (SRBI) ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan investasi riil, serta meredanya gejolak suku bunga di Amerika Serikat.

Di sisi lain, opsi pengetatan moneter lanjutan tidak sepenuhnya dikesampingkan. Bank Indonesia diprediksi wajib kembali mempertimbangkan opsi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin apabila nilai tukar rupiah terperosok ke zona Rp18.300 per dolar AS atau bahkan makin buruk, terutama apabila kondisi tersebut diperparah oleh gelombang arus modal keluar (capital outflow) dan penyusutan cadangan devisa secara drastis.

“Dalam skenario dasar Agustus, menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi dan daya tarik instrumen rupiah menyerahkan perbandingan manfaat dan biaya yang makin baik dibandingkan menaikkan ataupun menurunkan BI Rate,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *