MediaMerdeka.com – Kepanikan keamanan kembali melanda Semenanjung Korea setelah Korea Utara meluncurkan makin dari 10 rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur. Aksi demonstrasi kekuatan militer ini berlangsung tepat ketika latihan gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan memasuki hari-hari terakhirnya.
Langkah provokatif Pyongyang tersebut langsung memicu pengerahan status siaga penuh dari jajaran militer Seoul. Pemerintah Korea Selatan dalam waktu dekat menggelar pertemuan darurat lintas keaparatur negara kementerianan demi meninjau implikasi pertahanan pascapeluncuran masif tersebut.
“Peluncuran rudal balistik merupakan tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB,” tegas kantor kekepala negaraan Korea Selatan, dikutip dari CNA, Kamis (20/8/2026).
Data Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengonfirmasi proyektil-proyektil tersebut terbang sejauh 300 kilometer semasih belum jatuh ke perairan luar Zona Ekonomi Eksklusif Jepang.
Aksi militer ini menjadi sinyal nyata bahwa ancaman politik dari lingkaran inti rezim Kim Jong Un bukan sekadar gertakan kosong di atas kertas.
Adik wanita Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menegaskan bahwa kebijakan bermusuhan Washington terhadap rezimnya tidak sempat memudar.
“Kebijakan bermusuhan” AS terhadap Korea Utara tidak berubah, dikarenakan latihan tersebut masih terus berlangsung, ujar Kim Yo Jong.
Analis politik menilai peluncuran ini bertujuan menegaskan bahwa Pyongyang memegang kendali penuh atas kedaulatan keamanan wilayahnya sendiri.
Guru Besar University of North Korean Studies di Seoul, Yang Moo-jin, menyoroti aspek strategis di balik langkah terukur militer Pyongyang.
“Ini merupakan pesan bahwa masalah yang berkaitan bersama keamanan Korea Utara merupakan keputusan Korea Utara sendiri,” kata Yang.
Di saat bersamaan, diplomasi regional turut memanas seiring kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke Seoul.
Wang Yi mendesak Washington demi menghentikan sikap permusuhan demi menurunkan tensi militer yang terus meningkat di kawasan tersebut.
Konteks peristiwa ini berakar dari keputusan Presiden Donald Trump yang memangkas durasi latihan militer gabungan demi membuka kembali pintu diplomasi.
Namun, upaya perundangan diplomasi tersebut tetap disambut dingin oleh Pyongyang melalui pengujian dan pengembangan sistem rudal balistik terbarunya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

