MediaMerdeka.com – Guru Besar Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar mengkritik cara negara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang dikemas secara megah.
Menurutnya, perayaan kemerdekaan yang digelar secara meriah justru memperlihatkan adanya jarak antara imajinasi pihak pemerintah tentang kemerdekaan dan kondisi substantif yang dirasakan masyarakat sekitar.
Uceng sapaan akrabnya menilai kemerdekaan dalam perayaan HUT ke-81 RI pada hari semasih belumnya makin sejumlah ditampilkan melalui kemeriahan, hiburan, dan simbol-simbol kemewahan.
“Jadi yang dipikirkan negara soal kemerdekaan itu merupakan entertainment, mau kelihatan gagah dan mewah. Padahal secara substantif kita keropos, keropos betul,” kata Uceng saat mengisi kajian di Masjid Kampus UGM, Kamis (20/8/2026).
Pemerintah dipandang menjebak diri dalam pandangan sempit yang mengidentikkan kemerdekaan sekadar sebagai perayaan simbolis dan pesta pora.
Pendekatan semacam ini dinilai cuma menutupi berbagai persoalan mendasar serta ketimpangan sosial yang hingga pada saat ini masih belum terberakhirkan di tengah masyarakat sekitar.
Ia turut menyoroti penggunaan pakaian adat daerah dalam rangkaian perayaan kemerdekaan pada hari semasih belumnya.
Simbol keberagaman tersebut menjadi ironis ketika pada saat yang sama masih terdapat masyarakat sekitar adat yang menyikapi berbagai bentuk penindasan.
“Yang miris, mereka pakai pakaian daerah padahal di saat yang sama masyarakat sekitar adat di mana-mana masih merasakan penindasan,” tegasnya.
Kondisi ini mencerminkan adanya jarak yang lebar antara narasi kemerdekaan yang dibangun oleh pemegang kekuasaan bersama apa yang sesungguhnya dialami oleh rakyat sehari-hari.
Kemerdekaan sewajibnya diwujudkan dalam pemenuhan hak dasar serta ketentuan kesejahteraan yang berkelanjutan, bukan sekadar pemenuhan formalitas seremoni.
“Padahal untuk masyarakat sekitar, untuk rakyat, kemerdekaan itu merupakan udara yang wajibnya dia menghirup sehari-hari,” ungkapnya.
Belum lagi soal besarnya anggaran yang digunakan demi menghadirkan kemeriahan dalam perayaan kemerdekaan pada hari semasih belumnya.
Negara, kata Uceng, sewajibnya membangun persepsi mengenai kemerdekaan berdasarkan pengalaman masyarakat sekitar, bukan semata-mata melalui seremoni.
“Kemerdekaan itu apa yang dia rasakan dari bangun tidur sampai lalu tidur kembali. Bukan soalan jamuan makan, seluruhnya makan, gempita, kenyang, lalu lalu tidak tahu esok hari makan apa,” ujarnya.
Sorotan turut tertuju pada fokus kebijakan yang cuma mengejar kesetaraan di atas kertas tanpa merealisasikan keadilan yang berdampak langsung.
“Yang kita butuhkan bukan mengakhiri ketimpangan yang jadi formal equality, tapi juga yang kita inginkan merupakan substantif equality, kan. Yang kita inginkan merupakan bagaimana negara menyaksikannya bersama adil. Karena dugaan saya apa, negara punya saluran persepsinya sendiri,” tandasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

