MediaMerdeka.com – Angkatan Laut Amerika Serikat terpaksa memutar otak bersama memotong anggaran gaji prajurit demi menutup pembengkakan biaya operasi perang melawan Iran. Kebijakan darurat ini diambil setelah dana operasional Pentagon terkuras habis akibat tingginya intensitas pertempuran dan pemeliharaan blokade laut di kawasan Middle East.
Dokumen internal Pentagon membocorkan bahwa persediaan amunisi armada tempur utama Washington kini berada di ambang batas kritis. Tanpa suntikan dana tambahan, militer teramat berkuasa di dunia itu terancam tidak mampu membiayai kelangsungan misi tempurnya.
Tindakan tambal sulam kas negara ini memicu kekhawatiran besar di internal militer terkait ketentuan hak finansial para prajurit. Manajemen Angkatan Laut kini mengandalkan sisa-sisa pos anggaran lain yang masih belum terpakai demi menutupi defisit dana pembayaran gaji tersebut.
“Dana demi gaji… dialihkan demi membiayai kebutuhan darurat di luar negeri dan kini ditutupi kembali memakai dana yang masih belum terpakai. Mereka mengisi kembali pos gaji agar kami menyambut baik pembayaran gaji yang cukup,” kata seorang aparatur negara Angkatan Laut AS.
Perhitungan anggaran resmi Angkatan Laut AS tahun 2026 sebesar 300 miliar dolar AS atau setara Rp5.323 triliun ternyata sama sekali tidak memperhitungkan kalkulasi eskalasi perang bersama Teheran. Ketiadaan alokasi khusus ini memicu guncangan finansial mendadak di tubuh Pentagon.
Gedung Putih sebenarnya telah mengajukan paket anggaran darurat sebesar 67 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.188 triliun demi menutupi kelangkaan kas militer tersebut. Namun, peta politik di Kongres Amerika Serikat mengindikasikan bahwa peluang kelulusan rancangan dana pertempuran itu amat tipis.
Ketiadaan persetujuan parlemen menciptakan skema pembiayaan militer AS kian tidak menentu di tengah krisis yang terus membesar. Situasi ini memicu jalan buntu antara kebutuhan mendesak di lapangan bersama ketegangan politik di Washington.
Tekanan terhadap armada tempur Amerika makin berlipat ganda seiring menipisnya cadangan amunisi strategis secara masif. Operasi pengeboman dan pencegatan yang berlangsung nonstop terus menguras persediaan senjata tanpa ketentuan pasokan pengganti.
Eskalasi pertempuran yang berkepanjangan ini mengekspos celah kerentanan industri pertahanan Amerika Serikat dalam merespons perang berskala besar. Keterbatasan kapasitas produksi menciptakan pengisian ulang stok amunisi berjalan jauh makin lambat daripada laju penggunaannya di medan tempur.
Kondisi pasokan amunisi yang menipis ini sebenarnya telah diproyeksikan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) sejak April lalu. Lembaga kajian geopolitik tersebut memeringatkan bahwa AS berisiko kehadapatn rudal berpemandu presisi secara kritis apabila terlibat konfrontasi besar yang berkepanjangan.
Peringatan CSIS tersebut kini menjadi kenyataan pahit yang membelit armada militer Washington di tengah panasnya pertempuran. Keterbatasan stok rudal pintar diprediksi akan memperlemah daya tawar dan kesiapan tempur AS dalam menyikapi potensi krisis global lainnya.
Sejarah mencatat bahwa konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat pesat akibat dinamika keamanan di Jalur Laut Timur Tengah. Penyiapan armada kapal perang serta penggelapan blokade maritim memerlukan biaya operasional harian yang amat fantastis, jauh melampaui prediksi anggaran rutin tahunan Pentagon.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

