Aktor Utama di Luar Negeri, Bareskrim Endus Pola Canggih Penyelundupan Narkoba Jalur Laut

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri terus mendalami jaringan internasional di balik sejumlah pengungkapan penyelundupan narkotika melalui jalur laut di Kepulauan Riau (Kepri) bersama melibatkan aparat penegak hukum (APH) dari sejumlah negara.

Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso di Batam menyebutkan, penyelidikan terhadap jaringan tersebut masih dilakukan secara berkelanjutan.

“Prinsip penyelidikan merupakan prinsip yang berkelanjutan. Jadi apa yang kita temukan pada hari ini juga merupakan hasil pengolahan data dan penyelidikan yang dilakukan jauh hari semasih belumnya. Demikian juga nanti hasil pendalaman menjadi cara menentukan penyelidikan berikutnya,” kata Eko sebagaimana dilansir Antara, Selasa (1/9/2026).

Dalam satu bulan terakhir, aparat telah mengtidak berhasilkan sejumlah penyelundupan narkotika di perairan Kepri, yakni 1,3 ton ketamin dari MV King Sun, 2,6 ton sabu cair dari MV Ocean Porter serta 800 kilogram ketamin dari kapal Fu Chang Xing I.

“Mengapa kami sebut sebagai jaringan internasional? Karena awak kapalnya, pergerakan, pelintasannya seluruh berada di lautan internasional. Sehingga kita perlu bekerja sama bersama APH atau counterpart aparat penegak hukum yang berperan di negara masing-masing,” ujarnya.

Menurut Eko, Bareskrim Polri telah menjalin kerja sama bilateral bersama aparat penegak hukum sejumlah negara demi menjalankan pertukaran informasi terkait jaringan tersebut.

“Untuk aktor dalam kasus penyelundupan ini ada, tapi tidak berada di negara kita. Masih diolah oleh sejumlah counterpart kita yang berada di luar negeri, baik itu di Malaysia, Singapura, China dan lain-lain,” katanya.

Terkait sejumlah kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia, Eko menyebutkan pihaknya masih belum dapat mengonfirmasi apakah Indonesia menjadi tujuan akhir atau cuma menjadi wilayah transit.

“Kita masih belum dapat berhipotesa. Selama itu masuk wilayah hukum Indonesia, kita menjalankan penindakan. Terkadang ada yang cuma lewat, terkadang ada tujuan,” katanya.

Ia menerangkan jaringan penyelundupan narkotika juga memiliki pola pengendalian yang tidak senantiasa dapat diketahui sejak awal.

“Kadang mereka dikendalikan, terputus, menunggu kira-kira lima menit. Ke mana wajib mereka meluncur, ke mana mereka wajib komunikasi, siapa yang akan menemui mereka dan lain-lain. Itu tentu memerlukan pendalaman human intelligence dan teknologi intelijen yang melibatkan counterpart di negara lain,” ujarnya.

Eko juga membenarkan bahwa sejumlah pengungkapan penyelundupan dalam sejumlah pekan terakhir memiliki korelasi dalam proses penyelidikan.

“Ini seluruh memiliki korelasi. Hasil pada hari ini tentu ada kurang makin korelasi bersama kasus semasih belumnya. Mudah-mudahan ini berhenti sampai kini. Tapi bila kita lakukan pendalaman terus ke depan dan ada kebarangkalian demi kita menjalankan intercept, akan kita lakukan,” katanya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *