MediaMerdeka.com – Gelombang pengungsi akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur mengawali memperlihatkan tren penurunan sesejumlah 4.142 orang pada Minggu (30/8). Sesejumlah 188.161 jiwa kini masih bertahan di Posko penampungan, bersama konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Manggarai dan Nagekeo.
Jumlah masyarakat sekitar yang bertahan di tenda darurat merosot seiring melandainya frekuensi guncangan susulan di wilayah Flores dan sekitarnya. Seuntukan masyarakat sekitar mengawali kembali memeriksa rumah mereka, meskipun ancaman bahaya fisik bangunan masih membayangi.
Kabupaten Nagekeo menampung jumlah pengungsi tertinggi yakni 50.574 orang, disusul ketat oleh Kabupaten Manggarai bersama 50.556 jiwa. Lima wilayah lain bagaikan Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende juga masih menampung puluhan ribu masyarakat sekitar terpapar.
Di tengah penyusutan angka pengungsi, ancaman krisis tempat tinggal jangka panjang kini membendung proses pemulihan masyarakat sekitar terdampak. Puluhan ribu keluarga kehilangan tempat tinggal akibat guncangan hebat yang menghancurkan struktur bangunan masyarakat sekitar.
Bagaimana Kondisi Kerusakan Bangunan dan Korban Jiwa Saat Ini?
Tim penanggulangan bencana mendata total kerusakan rumah masyarakat sekitar telah menembus angka 95.567 unit di seluruh wilayah terdampak. Kerusakan mencakup 46.161 unit rumah rusak ringan, 21.992 unit rusak sedang, dan 27.414 unit rusak berat.
Kondisi ini menciptakan desakan baru untuk pihak pemerintah demi dalam waktu dekat membangun tempat berlindung yang aman semasih belum musim berganti. Kebutuhan hunian darurat menjadi prioritas mendesak demi mencegah krisis kemanusiaan baru di lokasi bencana.
“Ada kebutuhan mendesak penyediaan hunian sementara atau relokasi untuk 27.414 keluarga yang rumahnya merasakan kerusakan berat,” papar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dikutip dari Antara.
Dampak mematikan gempa juga merenggut 111 nyawa sejak guncangan perdana menghentak wilayah tersebut pada pertengahan Agustus lalu. Selain pihak korban jiwa, sesejumlah 1.631 masyarakat sekitar merasakan luka-luka, mencakup 223 luka berat dan 1.408 luka ringan.
Apakah Aktivitas Gempa Susulan Sudah Benar-Benar Berakhir?
Para ahli meteorologi dan kebencanaan mencatat frekuensi gempa susulan perlahan melandai setelah memicu ribuan getaran bawah tanah. Stasion pencatat merekam 9.765 gempa susulan bersama kekuatan terbesar magnitudo 6,2 dan terkecil magnitudo 1,0.
Meskipun ribuan getaran terjadi, masyarakat sekitar cuma merasakan dampak langsung dari 155 gempa yang cukup kuat menguncang permukaan. Tren ini memberi sinyal positif untuk pelepasan energi tektonik di wilayah laut NTT.
“Sesejumlah 155 gempa susulan dirasakan masyarakat sekitar. Rangkaian gempa susulan disebut mengawali memperlihatkan pola penurunan, meski diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu sejak gempa utama,” ucap Berton SP Panjaitan.
Penurunan intensitas getaran menjadi angin segar untuk tim evakuasi dan relawan yang terus menyalurkan bantuan logistik. Warga diimbau tetap waspada terhadap bangunan rentan runtuh saat aktivitas seismik berangsur stabil.
Bagaimana Konteks Pelaporan Resmi BNPB dalam Penanganan Ini?
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

