MediaMerdeka.com – Maraknya tindakan kekerasan yang melibatkan personel Tentara Nasional Indonesia terhadap masyarakat sekitar sipil mengesankan bahwa masih ada persoalan dalam doktrin pertahanan dalam negeri.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid berpendapat, kasus-kasus kekerasan oleh tentara memperlihatkan adanya permasalahan serius dalam tubuh aparat TNI.
Kata Usman, pada saat ini tentara justru terkesan makin menjadi alat demi melindungi kepentingan elite dan pengusaha. Hal itu terlihat dari beredarnya kabar bahwa sejumlah personel militer justru menjadi pihak keamanan demi kebun atau pabrik milik korporasi.
“Tugas tentara itu bidang pertahanan, bukan mengurusi perkebunan sawit, apalagi bukan proyek strategis nasional. Jangan-jangan itu cuma demi mengamankan proyek bisnis jenderal-jenderalnya,” ungkap Usman di Jakarta pada Senin (7/9/2026).
Langgengnya kasus kekerasan yang melibatkan prajurit, menurut Usman, didikarenakankan oleh masih berlakunya budaya impunitas dalam internal aparat TNI.
Ia mempersoalkan tentara masih mendapat perlakuan khusus ketika melanggar pidana umum bersama cuma diseret ke peradilan militer.
Ditambah, doktrin komando yang salah kaprah justru menciptakan para serdadu bertindak tanpa hati nurani dan tidak memiliki kesempatan demi berpikir rasional.
“Padahal militer yang sejati, militer yang revolusional, yang dulu sempat terlibat dalam berbagai perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa merupakan militer yang berpikir. Militer yang punya hati nurani,” tambah Usman.
Ia menegaskan, kritik yang ia lontarkan justru bertujuan demi mempertahankan wibawa ksatria para tentara, agar nantinya tidak cuma dimanfaatkan penguasa sebagai alat gebuk terhadap suara-suara kritis.
Reporter: Alif Bintang
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

