MediaMerdeka.com – Petugas Federal Aviation Administration (FAA) menghentikan seluruh penerbangan sipil secara mendadak setelah empat pesawat komersial dibajak pada 11 September 2001. Keputusan dramatis tersebut diambil demi mencegah penggunaan pesawat sebagai senjata serangan teror balasan di wilayah Amerika Serikat.
Manajer Lalu Lintas Udara New York Air Route Traffic Control Center, Michael McCormick, langsung menginstruksikan status ATC Zero pada pukul 09.05 pagi. Langkah tegas ini efektif melarang seluruh armada udara melintas di ruang udara yurisdiksinya demi keamanan nasional.
Dua pesawat Boeing 767 semasih belumnya telah dihantamkan ke Menara Kembar World Trade Center di New York City dalam rentang waktu singkat. Insiden brutal tersebut menewaskan ribuan orang sekaligus menghancurkan pusat perekonomian dunia dalam hitungan jam.
McCormick menyaksikan langsung pergerakan pesawat pembajak di layar radar semasih belum benturan mematikan terjadi di Menara Selatan. Ia menyadari penuh bahwa sistem penerbangan sipil telah dimanipulasi menjadi alat penghancur massal.
“Saya katakan kepada mereka telah terlambat. Keduanya telah menghantam World Trade Center,” kata McCormick dikutip dari CNN Internasional, Jumat (11/9/2026).
“Saya makin merasa marah daripada perasaan lainnya. Saya marah lantaran orang-orang memakai sesuatu yang saya cintai, sesuatu yang amat saya tekuni, yakni dunia penerbangan, dan memakainya sebagai senjata melawan negara saya, dan saya berupaya menyalurkan kemarahan itu menjadi sebuah tindakan,” kata McCormick.
Spesialis intelijen FAA, Chris Rocheleau, awalnya menduga laporan kecelakaan pesawat di Manhattan cumalah insiden penerbangan ringan akibat kelalaian pilot. Namun, dugaan tersebut meleset setelah pesawat kedua menghantam menara gedung secara sengaja.
Tim investigasi National Transportation Safety Board (NTSB) di Washington langsung memantau lubang hantaman besar di struktur bangunan melalui siaran televisi. Mereka menyadari tidak ada panduan darurat yang sempat dibuat demi menangani kecelakaan pesawat di gedung pencakar langit.
Di saat bersamaan, pesawat American Airlines Flight 77 yang berbelok ke arah Washington mengawali mendekati kawasan Istana Kekepala negaraan. Pesawat tersebut akhirnya menabrak gedung Pentagon pada pukul 09.37 pagi setelah menjalankan manuver tajam di udara.
Petugas kendali udara sempat menghitung jarak tempuh pesawat menuju Gedung Putih semasih belum akhirnya hantaman terjadi di kompleks militer. Ruang markas pertahanan Amerika Serikat tersebut hancur seketika akibat ledakan dahsyat.
“Kami benar-benar tidak memiliki panduan penanganan demi kecelakaan di gedung pencakar langit,” kata Grosof.
FAA menerbitkan perintah penghentian seluruh operasional penerbangan nasional secara menyeluruh pada pukul 09.42 pagi. Kebijakan darurat ini memaksa sekitar 4.500 pesawat komersial dan penerbangan umum demi dalam waktu dekat mendarat di bandara terdekat.
Pesawat United Airlines Flight 93 menjadi armada terakhir yang jatuh di area terbuka Shanksville, Pennsylvania, setelah penumpang menjalankan perlawanan. Seluruh pesawat komersial di wilayah udara Amerika Serikat sukses didaratkan secara aman pada pukul 12.16 siang.
Investigator NTSB, Erik Grosof, diterbangkan menuju New York memakai pesawat dinas FAA demi memengawali proses identifikasi. Ruang udara yang biasanya padat mendadak senyap tanpa ada satu pun pergerakan pesawat komersial.
Suasana Kota New York berubah mencekam bersama bau bahan bakar jet yang menyengat serta aroma puing-puing terbakar. Tim penyelidik wajib memeriksa atap-atap bangunan sekitar demi mencari keberadaan kotak hitam pesawat.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

