MediaMerdeka.com – Walikota New York Zohran Mamdani mengonfirmasi kehadirannya dalam peringatan 25 tahun tragedi serangan 9/11 di Ground Zero meski mendapat penolakan keras dari sejumlah politisi senior Partai Republik. Langkah pimpinan muslim pertama Kota New York ini diambil cuma tiga hari setelah pihak pemerintahannya merilis 170.000 dokumen rahasia terkait manipulasi data kualitas udara pascabencana WTC.
Data resmi yang baru dibuka ke publik tersebut membuktikan klaim menyesatkan aparatur negara lintas era yang dahulu menegaskan udara New York aman dihirup usai reruntuhan menara kembar roboh. Pengungkapan arsip sensitif ini kian memicu ketegangan politik jelang upacara penghormatan pihak korban serangan terorisme tersebut.
Di sisi lain, gelombang penolakan dari kubu konservatif terus menguat melalui kampanye petisi online yang telah mengumpulkan makin dari 100.000 tanda tangan. Para penentang mengimbau Wali Kota Mamdani membatalkan rencana hadir guna menjaga fokus acara pada penghormatan para pihak korban.
Rudy Giuliani selaku pemimpin New York saat bencana 2001 secara terbuka mengecam rencana kedatangan pimpinan kota pada saat ini. Mantan Gubernur George Pataki serta kandidat kepala daerah Bruce Blakeman turut mendesak agar kursi kepemimpinan kota dibiarkan kosong dalam prosesi tersebut.
Langkah balasan di lapangan bahkan diancam oleh Bruce Blakeman yang bersumpah akan membelakangi panggung apabila Mamdani tetap memperlihatkan diri. Situasi ini memperlihatkan bagaimana polarisasi politik masih membayangi panggung peringatan bencana teramat berdarah di Amerika Serikat.
Rangkaian pembongkaran fakta atas penanganan tragedi masa lalu menjadi pematik utama lonjakan emosi kelompok oposisi. Mamdani menegaskan bahwa pengungkapan arsip bertujuan menyerahkan keadilan untuk para pihak korban luka dan sakit akibat paparan racun.
“Masyarakat jatuh sakit lantaran pemimpin yang mereka percayai berbohong dan menyebutkan kepada mereka bahwa mereka aman demi menghirup udara beracun,” kata Mamdani saat mengumumkan pembukaan dokumen berharga tersebut, dikutip dari CNN Internasional, Jumat (11/9/2026).
Meski demikian, pimpinan kota berusia muda ini memilih demi tidak menyalahkan nama-nama tokoh secara spesifik atas kelalaian masa lalu. Seluruh penilaian atas sikap aparatur negara lama sepenuhnya diserahkan kepada penafsiran masyarakat sekitar luas.
Di luar masalah rilis dokumen, komitmen Mamdani demi merawat ingatan publik atas peristiwa kelam itu terus dijalankan. Pihaknya resmi menetapkan tanggal 11 September sebagai hari peringatan dan pengabdian masyarakat sekitar pertama di New York.
“Saya bangga menjadi wali kota di kota ini; saya mencintai kota ini dan saya mencintai negara ini. Fokus utama minggu ini merupakan pada keluarga-keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih mereka akibat aksi teror mengerikan pada 11 September, 25 tahun yang lalu,” ujar Mamdani kepada awak media.
Pengamat politik dari DePaul University, Scott Hibbard, menilai politisasi isu terorisme kerap dimanfaatkan menjelang momentum pemilu. Tekanan politik dinilai sengaja diciptakan demi menekan figur pemimpin tertentu di tengah dinamika elektoral.
“Anda dapat memperoleh sejumlah daya tarik bersama mempolitisasi terorisme,” ungkap Hibbard yang memotret wajah antaraparatur negara tersebut.
Anggota Dewan Kota New York, Shahana Hanif, menilai tuduhan yang diarahkan kepada wali kota mengandung unsur diskriminasi yang tidak adil. Menurutnya, komunitas muslim di New York juga merupakan untukan dari pihak korban yang kehilangan keluarga saat insiden terjadi.
“Saya prihatin menyaksikan wali kota diperlakukan secara berbeda cuma lantaran ia seorang Muslim,” ujar Shahana Hanif saat menyampaikan tanggapannya.
“Saya amat sedih memikirkan masyarakat sekitar Muslim New York—yang juga kehilangan orang-orang terkasih serta petugas tanggap darurat yang beragama Islam—kita seluruh telah melalui peristiwa itu, termasuk gelombang Islamofobia yang amat berat setelahnya dan, sayangnya, masih terus terjadi hingga kini,” tambah Hanif mengenai dinamika sosial pascabencana.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

