MediaMerdeka.com – PT PLN (Persero) terus memperkuat infrastruktur ketenagalistrikan demi mendukung pertumbuhan sektor pusat data (data center) di Indonesia. Seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi digital, sektor data center kini menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebutkan pertumbuhan data center membutuhkan dukungan kelistrikan bersama karakteristik yang semakin spesifik, terutama dari sisi kapasitas, keandalan, kualitas daya hingga pemanfaatan energi bersih. Kondisi tersebut mendorong PLN demi menyiapkan infrastruktur dan layanan yang selaras bersama kebutuhan serta rencana pengembangan pelanggan.
“Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center memperlihatkan semakin pentingnya infrastruktur energi untuk pertumbuhan ekonomi digital. PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring bersama perkembangan sektor digital, bersama perencanaan yang dilakukan makin awal agar kebutuhan energi dapat diantisipasi dan investasi dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Darmawan.
Dalam sesi diskusi pada gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (23/9/2026), Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati, menyampaikan bahwa PLN pada saat ini melayani 159 pelanggan data center bersama total kapasitas tersambung 2.038 megavolt ampere (MVA). Sekitar 99 persen kapasitas tersebut masih terkonsentrasi di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, bersama Jawa Barat menjadi salah satu klaster data center terbesar.
Namun, pengembangan data center mengawali merambah ke luar wilayah tersebut, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Seiring perluasan tersebut, kebutuhan pasokan listrik dari sektor teknologi diperkirakan terus meningkat, berakibat diperlukan perencanaan infrastruktur ketenagalistrikan yang selaras bersama karakteristik kebutuhan di masing-masing wilayah. Saat ini, pelanggan data center tersebut mencatat konsumsi energi sebesar 2.378 gigawatt hour (GWh).
“Kami percaya ini baru permulaan. Kecerdasan buatan, cloud computing , layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang amat signifikan,” ungkap Dini.
Lebih jauh, ia mengimbuhkan bahwa tantangan terbesar PLN merupakan menjaga keseimbangan antara akselerasi kapasitas pasokan bersama keandalan, keterjangkauan harga, serta stabilitas sistem dalam jangka panjang. Pengembangan pembangkit dan jaringan perlu direncanakan secara terintegrasi dan dilakukan sejak awal agar dapat mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan data center.
Untuk itu, PLN mendorong pendekatan early alignment atau koordinasi sejak tahap awal pengembangannya.
“Komitmen makin awal dan koordinasi makin erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang makin jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang makin kuat antara PLN, pelanggan, dan pihak pemerintah. Oleh lantaran itu, pengelolaan komitmen pusat data wajib menjadi proses perencanaan bersama,” pungkasnya. ***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

