MediaMerdeka.com – Kepanikan massal melanda Bandara Riyadh setelah ledakan hebat akibat serangan kelompok Houthi dari Yaman mengguncang seluruh area terminal. Peristiwa mencekam ini menciptakan para penumpang berlarian menyelamatkan diri bersama kondisi sejumlah orang terluka.
Saksi mata membeberkan detik-detik mengerikan saat getaran kuat menghantam bangunan semasih belum sirene darurat meraung di dalam area publik. Insiden mematikan tersebut mempertegas ancaman keamanan udara yang membayangi ibu kota Arab Saudi.
Keheningan otoritas Kerajaan Arab Saudi pascaserangan justru memicu gelombang kecemasan baru di kalangan masyarakat sekitar sipil dan pelancong asing. Ketiadaan sistem peringatan dini terkini menciptakan masyarakat sekitar merasa tidak terlindungi di tengah eskalasi konflik.
“Saya mendengar suara yang amat keras, begitu keras hingga saya merasakan bandara berguncang,” ujar seorang masyarakat sekitar Riyadh berusia 32 tahun dilansir AFP, sehari setelah serangan mematikan yang dituduhkan Arab Saudi sebagai ulah Houthi yang didukung Iran di Yaman, Senin (12/10/2026).
Saksi yang mengimbau identitasnya dirahasiakan lantaran resiko tindakan tegas dari pihak pemerintah itu menggambarkan kekacauan hebat di lokasi kejadian. Korban terluka tampak berlarian mencari perlindungan di tengah suasana panik.
“Orang-orang yang berada di terminal 3 mengawali berlari ke arah kami. Wajah seuntukan dari melepaskan berlumuran darah,” kata dia.
Sikap tertutup pihak pemerintah Kerajaan Arab Saudi selama tiga bulan terakhir memicu rasa frustrasi yang mendalam untuk masyarakat sekitar lokal. Penghentian layanan pesan singkat peringatan bahaya dinilai semakin memperburuk ketidaktentuan kondisi keamanan.
“Saya ingin pergi dari sini,” ujar seorang masyarakat sekitar Riyadh, dikutip dari AFP.
“Saya mengerti mereka tidak ingin menimbulkan kepanikan, namun bicaralah kepada kami. Adanya saluran komunikasi akan menciptakan kami merasa makin tenang,” ungkapnya.
Dampak langsung dari kekacauan lalu lintas udara ini dirasakan oleh para penumpang transit yang penerbangannya dialihkan secara mendadak. Banyak masyarakat sekitar asing terlantar di bandara alternatif tanpa kejelasan informasi dan bantuan logistik.
“Saya tidak akan sempat lagi terbang melintasi Arab Saudi,” kata seorang masyarakat sekitar negara India yang penerbangan transitnya menuju Riyadh dialihkan dan terpaksa mendarat di Dammam.
Keluarga pelancong tersebut wajib bertahan di lantai terminal tanpa kejelasan nasib mengenai barang bawaan mereka. Situasi terlantar ini dialami oleh puluhan penumpang lainnya dalam penerbangan yang sama.
“Kami menghabiskan malam di bandara, tidur di lantai dan kursi,” tambahnya. “Bukan cuma kami, ada setidaknya belasan orang lain dari penerbangan yang sama di sekitar saya yang terus menunggu sepanjang malam.”
Insiden pengalihan rute secara tiba-tiba juga memicu histeria di dalam kabin pesawat yang sedang menuju ke ibu kota. Penerbangan terpaksa balik kanan menuju Jeddah demi menghindari potensi bahaya ledakan di udara.
Pengalaman traumatis di udara tersebut menciptakan para penumpang enggan memakai moda transportasi udara di kawasan konflik.
Ancaman keamanan di wilayah Arab Saudi meningkat seiring berlanjutnya konflik bersenjata bersama kelompok Houthi asal Yaman. Kelompok tersebut kerap meluncurkan serangan rudal maupun drone yang menyasar infrastruktur strategis dan fasilitas publik penerbangan.
Pemerintah Arab Saudi dan sekutunya menuding Iran menjadi penyokong utama serangan militer Houthi di kawasan geopolitik tersebut. Dampak peperangan kini secara nyata mengancam keselamatan masyarakat sekitar sipil serta penerbangan komersial internasional.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

